Share

Mahasiswa Universitas Pertamina Ciptakan Solusi untuk Minimalisir Korban Erupsi Gunung Api

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Rabu 25 Mei 2022 12:27 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 25 65 2599979 mahasiswa-universitas-pertamina-ciptakan-solusi-untuk-minimalisir-korban-erupsi-gunung-api-SHIwSohtrD.jpg Mahasiswi Universitas Pertamina hadirkan solusi meminimalisir korban erupsi gunung/Dokumen Universitas Pertamina

JAKARTA - Sinta Nur Asyidah, Mahasiswi Program Studi Teknik Geofisika Universitas Pertamina (UPER) menciptakan solusi alternatif untuk dapat meminimalisir risiko kerusakan dan korban jiwa akibat bencana vulkanik.

Solusi alternatif ini diciptakannya dari hasil penelitian yang dilakukan di kawasan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Jawa Tengah.

Penelitian yang dilakukan Sinta adalah dengan cara merekam pergerakan gelombang Shear (S) yang terjadi di wilayah sekitar Gunung Merapi dan Merbabu dengan menggunakan seismometer.

"Seismometer bisa juga diartikan sebagai alat pantau. Fungsinya merekam gelombang seismik dan tiltmeter untuk mengetahui arah gerak lava,” ungkap Sinta dalam keterangan resmi Universitas Pertamina, Rabu (25/5/2022).

Data dari pergerakan gelombang S tersebut, lanjut Sinta, kemudian diolah menggunakan bahasa pemrograman phyton untuk menunjukkan arah polarisasi atau pergerakan gelombang. Menurut Sinta, dengan mengetahui arah pergerakan lempeng bumi tersebut, evakuasi warga di sekitar lokasi bencana dapat dilakukan lebih dini.

"Sehingga, dapat meminimalisir jumlah korban jiwa," pungkasnya.

Secara geografis, Indonesia terletak di atas tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Eurasia, Australia, dan Pasifik.

Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara yang memiliki banyak gunung berapi dan sangat rentan terhadap bencana erupsi gunung berapi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sedikitnya ada 127 gunung berapi aktif di Indonesia.

"Besarnya potensi bencana vulkanik di Indonesia ini, membuat mitigasi bencana sangat penting dilakukan. Pemerintah sendiri telah memaksimalkan program mitigasi dengan memasang alat pantau di sekitar wilayah gunung berapi. Namun, tentunya dibutuhkan inovasi dan dukungan para akademisi untuk mengotimalkan upaya yang telah dilakukan pemerintah tersebut,” ujar Sinta.

Hasil yang didapatkan dari penelitian Sinta, menunjukkan bahwa pergerakan lempeng bumi di kawasan Gunung Merbabu cenderung tegak lurus dengan parit (trench).

Sedangkan, pergerakan lempeng bumi di kawasan Gunung Merapi cenderung lebih acak.

"Ini kemungkinan disebabkan adanya perbedaan struktur di bawah permukaan bumi. Karena Gunung Merbabu adalah gunung mati, sementara Gunung Merapi adalah gunung aktif dan menjadi salah satu gunung teraktif di dunia,” jelas Sinta.

Sinta yang dalam penelitian dibimbing dosen sekaligus pakar seismologi, Sandy Kurniawan Suhardja telah berhasil mempresentasikan penelitiannya di acara konferensi internasional bergengsi bernama Society of Exploration Geophysicist Virtual Student Conference 2022, pada 11 Mei 2022 lalu.

"Mata Kuliah Seismologi yang didapatkannya di kelas, sangat membantunya dalam menyusun penelitian ini," tukasnya.

Sementara itu, dilansir dari laman Magma Indonesia milik Kementerian ESDM, hingga Senin, 23 Mei 2022, terhitung pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Gunung Merapi telah mengalami 35 kali gempa guguran dan 6 kali gempa hybrid/fase banyak.

Gunung api yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini, kini ditetapkan Siaga Level III.

Letusan Gunung Merapi pada akhir Oktober 2010 lalu menewaskan lebih dari 350 korban jiwa.

Tim Percepatan Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana Erupsi Merapi juga mencatat, kerugian material akibat erupsi Merapi 2010 ini ditaksir mencapai 5 Triliun Rupiah.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini