Share

Mengapa Pengaruh Kolonial Belanda di Berbagai Daerah Berbeda-beda? Ini Jawabannya

Rina Anggraeni, Sindonews · Sabtu 21 Mei 2022 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 21 624 2597965 mengapa-pengaruh-kolonial-belanda-di-berbagai-daerah-berbeda-beda-ini-jawabannya-Rqs8Vyv8ow.jpg Kolonial Belanda (Foto:IPPHOS)

JAKARTA - Alasan mengapa pengaruh kolonial Belanda di berbagai daerah berbeda-beda?. Hal ini dikarenakan dari beberapa pimpinan yang berbeda-beda.

Bangsa yang pertama datang ke Indonesia ada bangsa Portugis. Mereka awalnya datang untuk berdagang, namun lama-lama mereka berperilaku sewenang-wenang. Lalu pada tahun 1596 (abad ke-16), bangsa Belanda datang ke Indonesia, tepatnya di Banten dengan dipimpin oleh Cornelis de Huotman.

Dengan kedatangan pihak Belanda maka terbentuklah VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) dengan tujuan memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia sehingga dapat menyingkirkan bangsa Portugis dan Spanyol.

Saat itu, para penjelajah Belanda pertama kali masuk ke kepulauan Nusantara pada tahun 1595 dengan empat buah kapal, 64 pucuk meriam, dan 249 awak yang dikomandoi oleh Cornelis de Houtman.

Cornelis de Houtman dikenal sebagai kapten kapal yang bertabiat buruk. Semula kedatangannya diterima oleh orang-orang Nusantara dengan tangan terbuka. Namun, ulahnya mengubah relasi itu menjadi perseteruan dan peperangan

Lantas, mengapa pengaruh kolonial Belanda di berbagai daerah berbeda-beda? Ini Jawabannya. Hal ini dikarenakan banyaknya ras ataupun budaya pada Indonesia.

Tidak hanya itu, bangsa Indonesia masih terpecah belah berdasarkan kerajaan dan suku-suku yang mereka anut. Bahkan, kerajaan-kerajaan Indonesia saling menyerang satu sama lain, sehingga hal tersebut dimanfaatkan oleh penjajah untuk menguasai kerajaan-kerajaan Indonesia baik secara politis maupun militer dengan taktik devite et impera atau yang dikenal dengan teknik memecah belah.

Karena hal-hal tersebutlah yang menjadikan adanya perlawanan yang dilakukan oleh para ulama dan juga bangsawan Indonesia pada saat itu. Sayangnya, perjuangan ini belum efektif karena masih bersifat kedaerahan.

Adapun, pemerintahan kolonial Belanda di Jawa adalah sistem yang direk (langsung) maupun dualistik. Bersamaan dengan hirarki Belanda, ada hirarki pribumi yang berfungsi sebagai perantara antara petani Jawa dan layanan sipil Eropa. Bagian atas struktur hirarki pribumi ini terdiri dari para aristokrasi Jawa, sebelumnya para pejabat yang mengelola kerajaan Mataram. Namun, karena dikuasai penjajah, para priyayi ini terpaksa melaksanakan kehendak Belanda. (RIN)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini