"Untuk mengantisipasi masyarakat dan anak-anak khususnya bisa menggunakan jasa rakit dan kita seberangkan ke sekolahnya," ungkap Peltu Sayde Abu Bakar.
Menurutnya, jika turun hujan, anak-anak sekolah harus menunggu air luapan di sungai tersebut surut baru bisa menyeberanginya.
Sehingga mereka kerap tidak bisa belajar karena terlambat atau terlalu lama menunggu air sungai surut terlebih dahulu.
Diketahui, sejak jembatan penghubung antar desa ambruk, yang melintasi sungai habitat buaya itu tak hanya warga petani dan pelajar saja.
Namun juga para tenaga kesehatan dari Puskesmas dari kecamatan tersebut juga terpaksa harus menyeberangi sungai itu.
(bul)
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik