Share

Kisah Siswa SD di Aceh Besar yang Masih Seberangi Sungai Buaya saat Berangkat Sekolah

Syukri Syarifuddin, iNews · Kamis 19 Mei 2022 11:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 19 624 2596571 kisah-siswa-sd-di-aceh-besar-yang-masih-seberangi-sungai-buaya-saat-berangkat-sekolah-Mjmm7xouuR.jpg Siswa SD di Aceh Besar seberangi sungai habitat buaya demi berangkat sekolah/Tangkapan layar video Syukri

ACEH - Para pelajar di Desa Siron Blang, Kecamatan Kut Cot Gli, Kabupaten Aceh Besar, hingga kini masih menyeberangi aliran sungai yang menjadi habitat buaya saat berangkat sekolah karena belum adanya jembatan penghubung.

Kondisi ini tentunya mendorong Babinsa Koramil Kuta Cot Gli untuk membuat rakit penyeberangan.

Biasanya, di pagi hari tanpa mengenakan sepatu dan dibantu Prajurit Babinsa, ratusan pelajar sekolah dasar (SD) di desa tersebut terpaksa harus menyeberangi aliran sungai demi sampai ke sekolah yang berada di desa tetangga.

Aktivitas menyeberang sungai berbahaya ini sudah terjadi sejak tahun 2018, pasca jembatan penghubung atar desa roboh diantam banjir.

Tak jarang, para pelajar juga hanyut terbawa arus sungai. Namun, saat menyeberang, para siswa juga selalu diantar orang tua ke pinggir sekolah.

Tapi jika musim penghujan tiba, anak-anak ini terpaksa tidak sekolah.

Devi Noviani mengungkapkan biasanya ia berangkat ke sekolah pukul 07.30 WIB dan mengaku pernah terhanyut di sungai saat menyeberangi sungai tersebut.

Beruntungnya dia bisa diselamatkan oleh warga setempat yang melihatnya hanyut.

Untuk membantu para siswa agar tetap bisa belaja kala musim hujan tiba, Prajurit Babinsa dari Koramil Kuta Cot Gli bersama warga menginisiasi membuat rakit penyeberangan bagi siswa dan warga Desa Siron Blang.

Hal ini dibenarkan oleh Peltu Sayde Abu Bakar selaku Danramil Kuta Cot Gli.

"Untuk mengantisipasi masyarakat dan anak-anak khususnya bisa menggunakan jasa rakit dan kita seberangkan ke sekolahnya," ungkap Peltu Sayde Abu Bakar.

Menurutnya, jika turun hujan, anak-anak sekolah harus menunggu air luapan di sungai tersebut surut baru bisa menyeberanginya.

Sehingga mereka kerap tidak bisa belajar karena terlambat atau terlalu lama menunggu air sungai surut terlebih dahulu.

Diketahui, sejak jembatan penghubung antar desa ambruk, yang melintasi sungai habitat buaya itu tak hanya warga petani dan pelajar saja.

Namun juga para tenaga kesehatan dari Puskesmas dari kecamatan tersebut juga terpaksa harus menyeberangi sungai itu.

(bul)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini