JAKARTA - Susunan kebutuhan menurut Teori Abraham Maslow tampaknya perlu dipahami. Setiap individu pastinya memiliki suatu hal yang harus dipenuhi dalam hidupnya.
Hal tersebutlah yang disebut dengan kebutuhan. Dengan adanya kebutuhan yang harus dipenuhi, membuat setiap individu tersebut memiliki kemauan atau motivasi untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.
Ada berbagai macam teori mengenai kebutuhan, salah satunya teori kebutuhan menurut Abraham Maslow, yaitu teori hierarki kebutuhan. Secara besar, Abraham Maslow berpendapat bahwa kebutuhan menjadi alasan terbentuknya motivasi pada diri seorang individu untuk melakukan semua hal atau kegiatan, yang sekiranya dapat menopang individu tersebut dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pemikiran hierarki kebutuhan dasar ini bermula ketika Maslow menerapkan observasi terhadap perilaku monyet. Berdasarkan pengamatannya, ia menyimpulkan bahwa beberapa kebutuhan semakin diutamakan dibandingkan dengan kebutuhan yang lain. Contohnya jika individu merasa haus, karenanya individu akan cenderung untuk mencoba memuaskan dahaga. Individu dapat hidup tanpa makanan selama berminggu-minggu, tetapi tidak tanpa cairan. Individu hanya dapat hidup selama beberapa hari saja karena kebutuhan akan cairan semakin kuat daripada kebutuhan akan makan.
Kebutuhan-kebutuhan itu sering disebut Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan dasar yang digambarkan sebagai sebuah hierarki atau tangga yang menggambarkan tingkat kebutuhan. Terdapat lima tingkat kebutuhan dasar, yaitu :
1. Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan paling dasar pada setiap individu, dan merupakan kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik. Contoh kebutuhan fisiologsi seperti kebutuhan akan makanan, minuman, tempat berteduh, seks, tidur dan oksigen.
2. Kebutuhan akan Rasa Lepas dari Bahaya
Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis terpenuhi, maka muncullah apa yang disebut Maslow sebagai kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya. Kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya ini seperti rasa lepas dari bahaya fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari daya-daya mengancam seperti perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya, kerusuhan dan bencana dunia. Kebutuhan ini berlainan dari kebutuhan fisiologis, karena kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi secara total. Manusia tidak pernah dapat dijaga sepenuhnya dari ancaman-ancaman meteor, kebakaran, banjir atau perilaku berbahaya orang lain.
3. Kebutuhan akan Rasa Memiliki dan Kasih Sayang
Jika kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya telah terpenuhi, maka muncullah kebutuhan akan cinta, kasih sayang dan rasa memiliki-dimiliki. Kebutuhan ini meliputi hal-hal seperti dorongan untuk bersahabat, hasrat memiliki pasangan dan keturunan, kebutuhan untuk dekat pada keluarga, serta kebutuhan antarpribadi seperti kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta. Seorang individu yang kebutuhan cintanya sudah relatif terpenuhi semenjak kanak-kanak, tidak akan merasa panik ketika menolak cinta. Ia akan memiliki keyakinan bahwa dirinya akan diterima orang-orang yang memang penting untuk dirinya. Ketika ada orang lain menolak dirinya, ia tidak akan merasa hancur.
4. Kebutuhan akan Penghargaan
Setelah kebutuhan dicintai dan dimiliki tercukupi, manusia akan lepas untuk mengejar kebutuhan akan penghargaan. Maslow menemukan bahwa setiap orang yang memiliki dua kategori mengenai kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan yang semakin rendah dan semakin tinggi. Kebutuhan yang rendah adalah kebutuhan untuk menghormati orang lain, seperti kebutuhan akan status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan, perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi. Kemudian, kebutuhan yang tinggi ialah kebutuhan akan harga diri termasuk perasaan, keyakinan, kompetensi, prestasi, penguasaan, kemandirian dan kebebasan. Sekali manusia dapat memenuhi kebutuhan untuk dihargai, mereka sudah siap untuk memasuki gerbang aktualisasi diri, kebutuhan paling tinggi yang ditemukan Maslow.
5. Kebutuhan akan Aktualisasi Diri
Tingkatan terakhir dari kebutuhan dasar Maslow ialah aktualisasi diri. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang tidak melibatkan keseimbangan, tapi melibatkan hasrat yang terus menerus untuk memenuhi potensi. Maslow menggambarkan kebutuhan ini sebagai hasrat untuk makin diproduksi menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, diproduksi menjadi apa saja menurut kemampuannya. Awalnya Maslow berasumsi bahwa kebutuhan untuk aktualisasi diri langsung muncul setelah kebutuhan untuk dihargai terpenuhi, akan tapi selama tahun 1960-an, ia menyadari bahwa banyak anak muda di Brandeis memiliki pemenuhan yang cukup terhadap kebutuhan-kebutuhan semakin rendah seperti reputasi dan harga diri, tapi mereka belum juga dapat sampai aktualisasi diri.
(Widi Agustian)