Share

4 Kisah Unik Mahasiswa di Luar Negeri pada Bulan Ramadan, Puasa 19 Jam Buka Pukul 10 Malam

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 26 Maret 2022 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 23 65 2566445 4-kisah-unik-mahasiswa-di-luar-negeri-pada-bulan-ramadan-puasa-19-jam-buka-pukul-10-malam-PSgjDxdvbH.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

 JAKARTA - Bulan Ramadan merupakan bulan yang amat penting bagi umat Muslim. Selain menjalankan ibadah puasa, ada beberapa tradisi yang biasanya dilakukan di Indonesia selama bulan puasa.

Namun, hal itu tidak dialami oleh para mahasiswa yang menuntut ilmu di negeri seberang. Berikut adalah cerita 4 mahasiswa di luar negeri saat berpuasa.

Yuris Ramadhan

Yuris Ramadhan, Ketua PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Wellington, Selandia Baru, mengisahkan pengalamannya saat berkuliah di negara itu sewaktu Ramadhan. Pada 2017, ia beserta rekan-rekannya di PPI Wellington amat merindukan suasana puasa di Indonesia.

Demi mengurangi rasa rindu itu, PPI kerap melakukan acara bersama seperti buka puasa bersama. Apalagi, para mahasiswa bisa saling berbagi makanan dalam acara tersebut. Selain mempererat tali silaturahmi, ajang itu juga menjadi sesi bertukar cerita dan pengalaman antarmahasiswa.

Inayati Khaerinnisaa

Inayati merupakan mahasiswi yang berhasil studi ke Belanda pada tahun 2016. Ia merasakan waktu puasa yang jauh lebih lama di negara tersebut, yakni 19 jam. Inayati baru bisa membatalkan puasanya pukul 10 malam, sementara waktu Isya di negeri Kincir Angin itu adalah jam 12 malam.

Saat awal-awal menjalani puasa di Belanda, ia merasa sangat kesulitan. Selain karena waktu berpuasa sangat panjang, tantangan besar lainnya adalah kebanyakan teman-temannya di Belanda tidak menjalankan ibadah puasa. Ditambah, saat itu dirinya juga tengah mengerjakan tesis. Demi menghindari telat sahur, Inayati pun rela terjaga sampai waktu sahur tiba. Pasalnya, waktu antara berbuka puasa dengan sahur sangat pendek.

Ahmad Fuadi Fauzi

Ahmad Fuadi Fauzi adalah Ketua PPI Suriah yang membagikan kisahnya ketika berpuasa sekaligus berkuliah di negara tersebut. Pada 2015, pria yang akrab disapa Fuadi ini sedikit kesulitan saat mencari makanan di tengah situasi Suriah yang rentan konflik.

Ia beserta rekan-rekannya juga harus menjawab sederet pertanyaan jika bertemu dengan petugas keamanan Suriah. Padahal sebelum konflik, suasana Ramadhan di Suriah tergolong seru. Dirinya rajin berkeliling ke beberapa masjid di Kota Damaskus untuk mendapat menu makanan berbuka yang lezat.

Apalagi, masyarakat Damaskus dikenal sangat peduli kepada mahasiswa asing. Bahkan tak jarang, Fuad mendapat uang usai melaksanakan ibadah shalat Tarawih.

Labib Elmuna

Salah satu mahasiswa yang menimba ilmu di Tunisia pada 2017, Labib Elmuna, memaparkan pengalamannya saat berpuasa di negara tersebut. Menurut Labib, suasana Ramadhan di Tunisia cenderung sepi.

Hal ini mungkin disebabkan kondisi di Tunisia yang cukup panas pada siang hari sehingga semakin membuat masyarakat enggan beraktivitas di luar rumah. Maka tak heran, suasananya menjadi lengang.

*diolah dari berbagai sumber

Ajeng Wirachmi/Litbang MPI

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini