Share

Ilmu Matematika Bisa Cegah Penyebaran Penyakit Menular, Kok Bisa?

Neneng Zubaidah, MNC Portal · Minggu 26 Desember 2021 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 25 65 2522346 ilmu-matematika-bisa-cegah-penyebaran-penyakit-menular-kok-bisa-De84klwSvU.jpg ilustrasi: Council

JAKARTA – Penyakit menular dapat mengintai Anda kapan saja dan di mana saja. Penularannya yang sangat mudah, membuat Anda harus lebih waspada terhadap kemungkinan terinfeksi. Penyakit menular umumnya disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur.

(Baca juga: Virus Penyebab Penyakit Menular Baru Ditemukan di Jepang)

Namun tahukah Anda, Ilmu matematika ternyata dapat digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit menular.

Guru Besar IPB University dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) mengatakan, kajian matematik yang dilakukan, terkait dengan sifat-sifat dinamik dari model matematika dari penyebaran penyakit menular.

(Baca juga: Guru-Guru Matematika Ini Berinovasi Agar Tak Jadi Pelajaran 'Mematikan')

“Bilangan yang menunjukkan penyebaran penyakit, yaitu bilangan reproduksi dasar, diformulasikan untuk mencegah wabah penyakit atau menghilangkan kompartemen infeksi dalam populasi,” katanya dilansir Minggu (26/12/2021).

Teorema kestabilan titik tetap yang dirumuskan dapat memberikan informasi kapan penyebaran penyakit campak menghilang (bebas penyakit) dan menjadi wabah (endemik).

Pada penyebaran penyakit campak, lanjutnya, model kompartemennya dikembangkan berdasarkan fakta bahwa vaksinasi dan pengobatan merupakan strategi dalam pengelolaan dan mitigasi penyebaran penyakit.

“Bilangan reproduksi dasar yang diperoleh hanya bergantung pada nilai-nilai parameter model, maka perlu mengetahui parameter yang paling sensitif. Indeks sensitivitas ini memberikan informasi mengenai parameter fisis dari model yang perlu dikontrol agar penyebaran penyakit ini tidak menjadi wabah,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan analisis sensitivitas dengan data penyebaran penyakit campak di Indonesia pada tahun 2018, direkomendasikan untuk memperkecil kontak dan memperbanyak pengobatan pada individu yang terpapar.

Selain untuk mencegah penyebaran penyakit, model matematika juga dapat digunakan untuk memprediksi nilai dari parameter-parameter gelombang. Prediksi yang dihasilkan dari parameter-parameter ini menjadi dasar dalam upaya mengantisipasi risiko yang mungkin muncul akibat fenomena ini.

“Gelombang internal adalah gelombang yang terjadi di bawah permukaan laut, sehingga tidak teramati secara kasat mata. Keberadaan gelombang internal ini disebabkan oleh perbedaan rapat massa air laut di setiap lapisan,” katanya.

Menurutnya, gelombang soliter internal merupakan salah satu gelombang internal yang banyak diamati, karena gelombang ini terdeteksi melalui pola gelap terang yang teratur di permukaan laut yang dapat terekam oleh SAR (Synthetic Aperture Radar).

Menurutnya, gelombang internal menyebabkan air dingin dan plankton-plankton atau nutrisi-nutrisi lain yang berada di dekat dasar laut bergerak ke lapisan atas dekat permukaan.

“Sejumlah peneliti melaporkan adanya gelombang soliter internal di perairan Indonesia, seperti di Selat Lombok, dan di Selat Makassar. Gelombang soliter internal juga dapat terjadi di atmosfir sebagai akibat rapat massa udara yang tidak konstan,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, kontribusi pemodelan matematika untuk menjelaskan fenomena gelombang internal dan kompleksitas penyebaran penyakit menular sangat jelas. Model matematika yang dihasilkan merupakan terjemahan hukum-hukum yang mengendalikan fenomena tersebut.

“Namun, tantangan terhadap pemodelan matematika ini muncul ketika model tersebut diuji kesesuaiannya dengan data-data yang diketahui dalam permasalahan tersebut,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini