Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tim ITS Lakukan Kajian Bencana ke Daerah Terdampak Erupsi Gunung Semeru

Neneng Zubaidah , Jurnalis-Minggu, 19 Desember 2021 |14:01 WIB
Tim ITS Lakukan Kajian Bencana ke Daerah Terdampak Erupsi Gunung Semeru
Foto: Dok. ITS.
A
A
A

JAKARTA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan perhatiannya terhadap bencana erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada 4 Desember lalu melalui kunjungan ke Dusun Umbulan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang. 

Kunjungan selama tiga hari, sejak Senin (13/12/2021) lalu itu dilakukan oleh tim dari Pusat Penelitian Mitigasi, Kebencanaan, dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS yang bekerja sama dengan tim dari Ikatan Alumni (IKA) ITS dalam rangka kajian bencana ke daerah terdampak erupsi Gunung Semeru.

BACA JUGA: Cegah Illegal Fishing, Mahasiswa ITS Gagas Sistem Keamanan Maritim Otomatis

Peneliti senior dari Puslit MKPI ITS Dr Ir Amien Widodo MSi mengatakan, erupsi Gunung Semeru mengeluarkan dua hal yaitu awan panas dan banjir lahar. Awan panas memiliki kecepatan hingga 200 kilometer per jam dan bisa mencapai suhu melebihi 100 derajat Celcius yang berdampak pada terbakarnya pohon di daerah aliran sungai.

Dari hal tersebut, menurut Amien, perlu adanya kewaspadaan yang tinggi untuk penduduk sekitar terutama yang berada di tepi sungai.

“Kami harap adanya komunikasi antara penduduk daerah hulu dengan hilir saat terjadi erupsi seperti diadakan tombol bahaya bencana,” katanya melalui siaran pers, Jumat (17/12/2021).

BACA JUGA: Gunung Semeru Naik Level Siaga, Warga Mulai Evakuasi Barang dari Rumah

Amien menjelaskan, kunjungan tim Puslit MKPI dan IKA ITS ke daerah terdampak erupsi Gunung Semeru tersebut untuk melakukan kajian bencana dan hasilnya dapat digunakan sebagai rekomendasi penanggulangan bencana di masa depan.

Kunjungan survei ini meliputi survei geologi, vulkanologi, hidrologi, pemetaan kawasan terdampak, dan survei drone.

“Data survei diolah menjadi peta kawasan terdampak yang akan dianalisis dengan peta yang sudah ada sebelumnya,” ungkap dosen Teknik Geofisika ITS itu.

Amien menjelaskan lebih lanjut, ancaman lain dari erupsi ini adalah tanah longsor yang bersamaan dengan hujan dan awan panas. Namun di pos pantau gunung berapi belum memiliki sistem pengamatan tersebut, maka dapat dijadikan penelitian lebih lanjut agar tidak terjadi dampak lain dari erupsi gunung ini.

“Untuk ke depannya bisa dibuat alat sensor warning system terkait longsor dan dimasukkan ke pos pantau agar meningkatkan kewaspadaan aktivitas gunung,” ujarnya.

Anggota tim Puslit MKPI Dr Techn Umboro Lasminto mengatakan, ada potensi bencana susulan yang dikhawatirkan akibat area penumpukan lahar yang meluas. Hal tersebut menyebabkan perubahan arah aliran air sungai, sehingga aliran air tidak terkontrol dan diperparah dengan kondisi hujan yang terjadi hingga April.

Diungkapkannya, terbentuknya arah aliran sungai yang baru bisa mengarah pada permukiman penduduk yang dapat menyebabkan banjir. “Hal yang harus dilakukan adalah mencari solusi agar arah aliran air kembali pada aliran sungai semula,” jelas dosen Teknik Sipil ITS tersebut.

Anggota tim lainnya M Haris Miftakhul Fajar mengingatkan, dengan adanya bencana erupsi Gunung Semeru ini bukan saatnya saling menyalahkan, namun saatnya memaksimalkan peran masing-masing stakeholder yang ada.

“Selain itu, kita juga harus evaluasi terkait early warning system, proses mitigasi bencana, dan sosialisasi kepada penduduk,” tandasnya.

Untuk early warning system, menurut dosen Teknik Geofisika ITS ini, perlu melengkapi pengamatan visual dengan kamera termal yang bisa menangkap awan panas pada volume yang besar.

“Sebagai akademisi, kami juga perlu melakukan penelitian terkait tipe erupsi Gunung Semeru ini,” pungkas ahli geologi ITS itu.

(Rahman Asmardika)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement