Share

Inovasi IPB University, Rendang Praktis Bisa Dimasak dalam Satu Jam

Alvin Agung Sanjaya, Okezone · Rabu 08 Desember 2021 05:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 08 65 2513618 inovasi-ipb-university-rendang-praktis-bisa-dimasak-dalam-satu-jam-K7hZnad8wI.jpg Foto: IPB University.

JAKARTA - Rendang adalah salah satu olahan nusantara yang berbahan dasar daging. Rendang pernah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia.

Suatu kebanggaan jika makanan Indonesia dapat diakui kelezatannya. Meski begitu nyatanya untuk mencapai rasa rendang yang nikmat dibutuhkan waktu memasak yang cukup lama.

BACA JUGA: Alumnus Muda IPB Jalani Magang Hortikultura ke Amerika Serikat dan Belanda

Namun, baru-baru ini Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB University meluncurkan inovasi ‘Rendang Seasoning Mix Berbahan Krimer Sawit’ atau campuran bumbu rendang berbahan krimer minyak kelapa sawit, pada Sabtu (4/12/2021).

Dengan produk bumbu ini, maka memasak rendang tidak lagi memakan waktu lama dan hanya butuh waktu satu jam saja.

Produk ini dikembangkan berkat kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Menurut Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB, Prof Erliza Hambali, sejatinya minyak sawit dapat dikembangkan menjadi produk pangan, seperti Non Dairy Creamer (NDC).

BACA JUGA: Promosikan Rendang, Dubes RI untuk Bulgaria Sukses Tarik Investasi USD3 Juta

“NDC dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) merupakan krimer tiruan yang dibuat dari minyak nabati. NDC dapat dimanfaatkan sebagai substitusi tepung santan dalam pengembangan produk Rendang Seasoning Mix. Penggunaan Rendang Seasoning Mix dapat mempercepat proses pemasakan rendang menjadi satu jam sehingga lebih praktis,” ujarnya dilansir dalam laman resmi IPB.

Sementara Ketua Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) IPB University, Prof Suprihatin mengungkapkan, manfaat Non Dairy Creamer (NDC) minyak sawit adalah meningkatkan nilai tambah minyak sawit, mempunyai masa simpan relatif lama dan dapat bersaing dengan produk lain, terlebih harganya lebih murah daripada santan.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fateta IPB University Prof Slamet Budijanto menjelaskan, minyak sawit berkontribusi secara signifikan pada devisa negara. Hebatnya, minyak sawit dan minyak inti sawit dapat dikembangkan dalam bentuk inovasi.

“Sayangnya Indonesia masih mengimpor salah satu produk turunan sawit tersebut yakni gliserin monostearat. Produk hilir bernilai tambah ini perlu dikembangkan dan mendapat dukungan,” katanya.

Selanjutnya Direktur Kemitraan BPDPKS Edi Wibowo angkat bicara terkait kerjasama BPDPKS dengan Fateta IPB University.

Menurutnya, sub sektor perkebunan meliputi kelapa sawit mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Industri sawit berperan besar dalam mendukung Sustainable Development Goals, dari sisi persediaan lapangan kerja dan energi terbarukan,” pungkas Alumni Fateta IPB University tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini