Abah Landoeng, Sosok di Balik Lagu Guru Oemar Bakrie

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 26 November 2021 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 624 2507405 abah-landoeng-sosok-di-balik-lagu-guru-oemar-bakrie-a9Gg3nHhPT.jpg Abah Landoeng bersama Iwan Fals. (Foto: Instagram Iwan Fals)

JAKARTA - Musisi Iwan Fals pernah menelurkan sebuah lagu berjudul “Guru Oemar Bakrie” di tahun 1981. Lagu tersebut masuk ke dalam album bertajuk Sarjana Muda.

Ternyata, musisi kelahiran 1961 itu mendapat inspirasi dari Abah Landoeng, yang kemudian ditulisnya menjadi lagu Guru Oemar Bakrie. Abah Landoeng sendiri merupakan guru Iwan saat menimba ilmu di Bandung. Selain Iwan, sederet nama beken lain yang pernah menjadi murid Landoeng adalah Didi Petet, Euis Komariyah dan Ridwan Kamil.

Baca juga: Syekh Arsyad, 'Guru' yang Dikagumi Bung Hatta


Baca juga: Marsekal Soerjadi Soerjadarma, Navigator Andalan Belanda Pendiri Angkatan Udara RI

Abah Landoeng merupakan guru asal Bandung yang lahir pada 1926. Ia sangat gemar berkeliling Bandung menggunakan sepeda kumbangnya sejak muda. Tepatnya, ketika lulus dari bangku sekolah menengah atas.

Di saat bersamaan, naluri kepedulian dan keinginan Landoeng untuk mengajar amat besar. Ia berinisiatif untuk bertanya kepada orang yang ditemuinya, termasuk para kuli dan petani, apakah mereka bisa membaca atau tidak. Jika tidak, Landoeng akan secara sukarela mengajarinya.

Berbagai sumber menyebut, Landoeng terus mengabdi dengan menjadi guru. Terlebih, di masa pascakemerdekaan. Saat itu buta huruf masih menjadi musuh utama bangsa Indonesia. Ia pernah diberangkatkan oleh Presiden Soekarno ke Malaysia pada 1963.

Tujuannya sama, yakni untuk membantu negeri jiran itu memberantas buta huruf. Sebelumnya, Landoeng juga dipercaya menjadi panitia Konferensi Asia Afrika yang dihelat di Bandung tahun 1955. Tugasnya saat itu adalah menyiapkan kendaraan yang akan digunakan oleh para utusan negara peserta konferensi.

Pada 2002, Landoeng memutuskan bersepeda ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika itu, usianya sudah menginjak 75 tahun. Perjalanan itu ia tempuh selama 14 bulan; 7 bulan untuk perjalanan pergi dari Bandung ke Mekkah, dan 7 bulan lagi dia habiskan untuk perjalanan pulang.

*diolah dari berbagai sumber

Ajeng Wirachmi/Litbang MPI

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini