Upacara HGN 2021, Ini Harapan Dirjen Pendis Kemenag

Widya Michella, MNC Media · Kamis 25 November 2021 13:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 624 2507159 upacara-hgn-2021-ini-harapan-dirjen-pendis-kemenag-QyxQuSHJlY.jpg Dirjen Pendis Kemenag RI, Muhammad Ali Ramdani (foto: tangkapan layar)

JAKARTA - Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan sebagai guru seharusnya dapat membuat siswa ketagihan belajar dan sadar literasi dalam artian luas seperti literasi baca tulis, numerasi, sains, sosial budaya, digital dan moderasi beragama.

"Oleh karenanya guru dan kita semua harus meningkatkan kapasitas diri masing-masing, harus familiar dengan budaya digital memahami berbagai platform teknologi kekinian baik platform pembelajaran maupun platform media sosial atau yang kemudian kita kenal sebagai mitra digital," ucap Ali saat sambutan dalam upacara peringatan Hari Guru Nasional 2021 dengan tema "Guru Peduli Cerdaskan Anak Negeri”, yang disiarkan secara daring, Kamis (25/11/2021).

Baca juga:   Nadiem: Guru di Indonesia Menangis Melihat Murid Bosan, Kesepian dan Kehilangan Disiplin

Terkait dengan indeks keadaban bangsa, lanjutnya masih rendahnya Indonesia dalam bermedia sosial sehingga peran guru-guru yang sejatinya mengajarkan digital ethics yakni sopan santun dan tetap berakhlak karimah di dunia maya.

"Peserta didik kita harus dibekali digital etik sebab untuk karir akademik yang lebih panjang, jejak digital seseorang akan ditelusuri setiap orang yang hendak melakukan studi di dalam maupun di luar negeri," ucapnya.

Baca juga: Hari Guru Nasional, Jokowi Apresiasi Dedikasi Guru Mengajar di Tengah Pandemi

Pada proses pemulihan pembelajaran atau learning recovery, menurutnya Indonesia membutuhkan guru dan tenaga kependidikan yang profesional sekaligus peduli dalam artian memiliki jiwa kompasianer, senantiasa bersimpati dan berempati dalam melayani siswanya, berdiri pada garda terdepan dalam mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya dan yang paling utama adalah mendidik dan menanamkan karakter baik ahlakul karimah kepada anak bangsa.

"Pada posisi ini peran dan kiprah guru peduli tidak akan pernah bisa tergantikan boleh artifisial intelijen sampai kapanpun," ujar dia.

Dengan demikian, lanjut Ali guru harus memiliki kompetensi profesional yang sudah memiliki pemahaman keagamaan yang moderat.

"Kita berharap bahwa di tangan guru profesional dan moderat akan melahirkan peserta didik yang cerdas dan moderat pula, murid yang intelek dan moderat akan memberi kemaslahatan yang lebih besar,"tuturnya.

Sebaliknya jika murid-murid yang cerdas tetapi memiliki pemikiran yang intoleran apalagi ekstrimis. Maka ilmu sang murid, lanjutnya hanya akan memberikan kemudharatan dan bahaya bagi banyak orang.

Usaha pada aspek lain, Kemenag ujar Ali terus mengapresiasi dedikasi guru melalui program-program strategis nasional terutama terkait dengan aspek kesejahteraan guru yaitu diluncurkan tunjangan kelahiran, tunjangan profesi guru baik guru madrasah maupun guru PAI pada sekolah, pengangkatan guru PPPK bagi guru madrasah dan guru PAI, pemberian insentif guru dan pembayaran selisih terutang pada tahun 2015-2018.

Lalu pada aspek peningkatan kompetensi, Kemenag juga telah mengupayakan penguatan program sertifikasi guru melalui pendidikan profesi guru, pelaksanaan asesmen kompetensi guru, pengawas, kepala sekolah dan sejumlah kegiatan penyelenggaraan pendidikan keprofesian berkelanjutan atau PKB.

"Semoga langkah-langkah tersebut diikuti dengan menguatnya kepedulian dan tumbuhnya cinta pendidik bagi terwujudnya generasi cerdas bermartabat. Kita semua berharap guru peduli cerdaskan anak negeri ini tidak hanya berhenti menjadi jargon tetapi menjadi wujud nyata dalam ekosistem pendidikan agama dan keagamaan kita," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini