Surati Nadiem, Wanita Tenaga Kependidikan Mengaku Alami Pelecehan Seksual Verbal

Widya Michella, MNC Media · Selasa 23 November 2021 11:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 23 65 2506045 surati-nadiem-wanita-tenaga-kependidikan-mengaku-alami-pelecehan-seksual-verbal-HlGE9zI2TD.jpg Ilustrasi:(Foto: Freepik)

JAKARTA - Seorang wanita yang berprofesi sebagai pendidik di salah satu perguruan tinggi fakultas ilmu sosial politik ternama di Indonesia menyurati Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim secara terbuka melalui akun media sosialnya. Dia mengaku menjadi korban pelecehan seksual verbal.

"Saya perempuan dan saya adalah tenaga kependidikan di salah satu fakultas ilmu sosial di kampus negeri yang membawa nama negara kita," kata korban demikian dikutip MNC Portal dalam surat terbukanya, Senin (22/11/2021).

Baca Juga: Pria di Bandung Nyamar Jadi Wanita Berjilbab, Bertanya Alamat Lalu Begal Payudara Korban

Korban mengaku mendapatkan perlakuan seperti gurauan alat kelamin, hubungan seksual, hingga tatapan sensual dari sang pelaku yang membuatnya tidak nyaman. Korban sempat berbicara dengan rekan kerja, namun mereka menilai perilaku dan dialog tersebut hanyalah gurauan semata.

"Saya merasa ada di fase kebingungan dalam waktu lama karena teman di unit saya mewajarkan pelecehan yang dilakukan oleh pelaku dan menganggapnya sebagai gurauan," ujar korban.

Atas kejadian itu, korban mengaku mengalami kondisi trauma berat oleh psikiater hingga diresepkan obat. Lalu, pada 19 November 2018, korban mulai memberanikan diri untuk mengirimkan aduan kepada Wakil Dekan bidang sumber daya manusia (SDM).

"Saya uraikan keluhan saya hingga ke detail dialog yang kerap diucapkan dan gesture yang kerap pelaku lakukan kepada saya," ucapnya.

Baca Juga: Korban Pelecehan Seksual Penjual Mainan di Jakarta Utara Alami Trauma

(ari)

Dia pun tidak meminta pelaku untuk diberi sanksi/hukuman karena menurutnya kasus pelecehan seksual secara fisik nyatanya sulit dibuktikan dan diusut. Dan mendesak adanya edukasi dan sosialisasi untuk seluruh tenaga kependidikan tentang batasan pelecehan seksual.

"Tidak ada tanggapan dari email aduan saya hingga pelaku pensiun pada Oktober 2019. Bahkan, hingga hari ini saya tidak mendapat jawaban kenapa aduan saya tidak ditanggapi," tuturnya.

Korban pun masih merasakan trauma selama bertahun-tahun yang kembali merenggut kesehatan mental, mengganggu aktivitas sosial, mengubah pola

perilaku hingga hilang penghargaan diri karena pernah merasa tidak ditolong, tidak dilindungi, dan tidak dibantu dipulihkan.

Ingatan itu pun kembali munculusai mengikuti sosialisasi dari Wakil Dekan SDM melalui zoom. Saat melihat wajah Wakil Dekan SDM timbul rasa marah yang meluap-luap tanpa penyebab. Setelah itu emosi yang tiba-tiba, membawa dampak pada mentalnya seperti tangan kaki kebas, lalu menjalar kebas ke betis, paha, perut, atas bibir hingga seluruh wajahnya kebas dan kaku hingga sesak napas.

Setelah itu, korban dilarikan ke UGD. Usai keluar dari UGD, Dia kembali menguraikan dalam pikirannya bahwa alasan meluapnya amarah akibat wajah Wakil Dekan SDM.

"Dengan wajah Wakil Dekan bidang SDM itu karna saya teringat akan sexual harrasment yang saya alami di unit kerja saya dan telah saya adukan namun tidak ada tanggapan," tuturnya.

Pada surat terbuka kepada Nadiem itu, korban menyatakan dukungannya terhadap Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbudristek) Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi.

Korban menyampaikan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 dapat dijadikan regulasi untuk menaungi keluhan para korban pelecehan dan kekerasan seksual khususnya di lingkungan perguruan tinggi.

"Tulisan ini juga sebagai bentuk dukungan saya kepada Mas Menteri atas dibuatnya peraturan itu, bahwa ada seorang penyintas dari tenaga kependidikan yang menyambut hangat dan haru adanya peraturan itu," ujarnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini