Share

Guru Bantu dari UNP Tingkatkan Percaya Diri Siswa Australia Bicara Bahasa Indonesia

Tim Okezone, Okezone · Senin 01 November 2021 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 01 65 2494798 guru-bantu-dari-unp-tingkatkan-percaya-diri-siswa-australia-bicara-bahasa-indonesia-X5ceDHjkiH.jpg Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra Mukhamad Najib. (Ist)

JAKARTA – Daya tarik kelas bahasa Indonesia di Australia seringkali terletak pada pengajarnya. Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan menyampaikan substansi materi bahasa, tapi juga mampu menciptakan proses pembelajaran yang menarik bagi siswa asing.

Sebaiknya Guru Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) tidak hanya dapat mengajar bahasa, tapi juga dapat mengenalkan budaya Indonesia. Itu karena budaya dapat menjadi pintu gerbang kertertarikan siswa untuk belajar bahasa.

Hal ini diungkapkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (ATDIKBUD) KBRI Canberra dalam acara Penutupan periode ke-II "Program Guru Bantu" yang dilakukan secara daring dari Victoria, Australia pada hari Jumat, 29 Oktober 2021.

Pengiriman guru bantu merupakan program kerjasama antara VILTA (Victoria Indonesian Language Teacher Association) dengan beberapa universitas di Indonesia dengan tujuan untuk menyediakan penutur asli Bahasa Indonesia yang terampil. Pada periode Agustus-Oktober ini VILTA bekerjasama dengan Universitas Negeri Padang. Sebanyak 20 orang guru bantu yang terdiri atas mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan KKN didistribusikan ke 15 sekolah di Victoria.

Menurut presiden VILTA, Sylvia Wantania, para guru bantu tersebut bertugas membantu para guru dan dosen bahasa Indonesia di Victoria, Australia dalam menyampaikan program-program budaya, menyiapkan bahan pengajaran dan membantu para siswa untuk berlatih percakapan secara daring.

Baca Juga : Bertemu Atdikbud, BBI Canberra Berupaya Tingkatkan Promosi Budaya dan Bahasa Indonesia


Sebelum diberi penugasan, para calon guru bantu dipersiapkan dan dilatih secara intensif oleh VILTA untuk menyesuaikan pada kondisi pengajaran di Australia, meliputi pelatihan guru, pengenalan kurikulum Australia dan pelatihan metode BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing - Bahasa Indonesia untuk Orang Asing).

Dalam kesempatan tersebut Najib, atas nama Kantor Atdikbud di Canberra mengucapkan terima kasih atas inisiasi VILTA dalam memperkuat promosi bahasa Indonesia di Victoria dan Universitas Negeri Padang yang telah bersedia mengirimkan mahasiswanya untuk membantu mengajar di sekolah-sekolah Australia. Program semacam ini menurut Najib perlu dikembangkan lebih luas lagi kedepannya.

Pengiriman mahasiswa KKN ke Victoria selain dapat membantu mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia di kalangan siswa-siswa Australia, tentunya juga bermanfaat bagi mahasiswa sendiri untuk memperoleh pengalaman internasional. Hal ini sesuai dengan spirit merdeka belajar dan kampus merdeka.

Najib juga berpendapat, mahasiswa yang sedang KKN memiliki kelebihan jika membantu mengajar di sekolah-sekolah Australia.

“Mahasiswa KKN memiliki rentang usia yang tidak terlalu jauh dari siswa-siswa SMA, mereka relatif berada dalam rentang generasi yang sama, sehingga kemungkinan akan lebih mudah mendekat dengan siswa dan bisa membuat siswa menjadi lebih tertarik,” kata Najib dalam siaran pers yang diterima.

Keberadaan guru bantu di sekolah-sekolah Victoria dirasakan sangat bermanfaat baik oleh guru, siswa maupun orang tua. Misalnya Sasha-Lee Lanyon, salah seorang guru bahasa Indonesia di Victoria menyebutkan bahwa keberadaan guru bantu dapat memberi kesempatan siswa-siswanya untuk bicara langsung dengan native, sehingga perkembangan siswa menjadi lebih cepat. Sementara guru lainnya, Julia Hall mengungkapkan bahwa siswanya menjadi lebih percaya diri untuk bicara bahasa Indonesia setelah berinteraksi dengan guru bantu.

Selama ini, menurut Sylvia, jika diajar oleh guru dari Australia, siswa-siswa cenderung mau cepat, sehingga seringkali di kelas tetap menggunakan bahasa Inggris dalam pengajaran. Dengan adanya guru bantu dari Indonesia yang adalah asli orang Indonesia, maka siswa-siswa dipaksa untuk bicara bahasa Indonesia. Hal ini menurutnya dapat mempercepat kemampuan siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Senada dengan guru-guru sekolah lainnya, Hayley Whelan selaku guru bahasa juga sangat berterima kasih atas kehadiran guru bantu dari Universitas Negeri Padang, dan berharap suatu hari nanti setelah border antarnegera dibuka bisa mengirim siswa-siswanya untuk datang ke Indonesia.

Dalam penutupan sambutannya, Najib juga menyampaikan program pengiriman guru bantu yang berasal dari mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan KKN ini perlu diperluas ke daerah-daerah lain di Australia.

“Program merdeka belajar yang dikaitkan dengan promosi bahasa dan budaya akan sangat menarik, karena memiliki multi manfaat, baik untuk mahasiswa, kampus maupun sekolah di Australia, oleh karena itu kantor Atdikbud di Canberra berencana akan memperluas program semacam ini ke negara-negara bagian lainnya di Australia,” tutur Najib.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini