Jangan Abai! Ini 2 Cara Rawat Kesehatan Mental

Susi Susanti, Okezone · Selasa 19 Oktober 2021 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 65 2488572 jangan-abai-ini-2-cara-rawat-kesehatan-mental-AKejWWbdQI.jpg Ilustrasi kesehatan mental (Foto: Times of India)

JAKARTA Kesehatan mental tidak bisa diabaikan. Apalagi di kondisi serba tidak menentu saat pandemi Covid-19.

Psikolog sosial dan dosen Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara sekaligus Pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) pada Kompartemen Riset dan Publikasi Juneman Abraham menjelaskan cara merawat kesehatan mental bisa dilakukan melalui dua pendekatan. Yakni pendekatan formal dan informal. Kedua pendekatan ini perlu dijalankan secara bersamaan. Berikut penjelasannya.

1. Pendekatan formal.

Pendekatan formal adalah pembuatan kebijakan publik berbasis bukti (evidence/science-based policy) berdasarkan observasi terus-menerus terhadap dinamika perilaku masyarakat (misalnya, bagaimana kebijakan proaktif pemerintah menyikapi tendensi 'wisata balas dendam', bagaimana program pemerintah dalam rangka jaminan penghidupan yang layak bagi warganya sesuai konstitusi). Dalam hal ini, kebijakan yang dibuat mesti sebanyak mungkin melibatkan ahli sains dan perwakilan komunitas yang terdampak pandemi.

Baca juga: Jelang 2 Tahun Covid-19, Refleksi Dampak Pandemi Penting untuk Kesehatan Mental

Tidak hanya itu, setelah dibuat, evidence-based policy ini harus dapat diterjemahkan dalam bahasa sedemikian rupa agar masyarakat memiliki persepsi yang kuat akan manfaat dari kebijakan yang diluncurkan. Lalu dilaksanakan secara konsisten. Persepsi manfaat dan perasaan pasti berkat konsistensi penegakan kebijakan akan menyumbang terhadap kesehatan mental masyarakat.

“Di samping itu, pemerintah dapat menciptakan inovasi kebijakan. Misalnya, dengan mengoptimalkan layanan jaminan kesehatan nasional, seperti BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), hingga mencakup masalah kesehatan mental (saat ini, BPJS Kesehatan belum mencakup layanan konseling psikologi), serta memperkuat layanan yang memberikan bantuan psikologis awal terhadap masyarakat yang ingin mengkonsultasikan (atau sekadar mengabarkan) masalah kesehatan mental yang mereka miliki (saat ini ada telekonseling SEJIWA 119ext8). Penguatan itu misalnya memperluas waktu layanan SEJIWA menjadi 24 jam sehingga dapat dihubungi kapanpun oleh masyarakat yang membutuhkannya,” paparnya.

Baca juga: 5 Gangguan Mental yang Sering Dialami Seseorang

2. Pendekatan informal

Pendekatan informal dapat dilakukan pada tingkat komunitas berupa inisiatif-inisiatif, gerakan-gerakan sosial yang saling bersinergi untuk melakukan pencegahan, mitigasi, dan intervensi terhadap masalah kesehatan mental.

Bentuk inisiatifnya bisa beragam, mulai dari pengadaan instrumen asesmen diri (yang dapat memberdayakan orang per orang untuk memantau status kesehatan mentalnya dari waktu ke waktu), pembangunan kapasitas (capacity building) bidang pertolongan pertama psikologi (psychological first aid), penyediaan bantuan perawatan kesehatan mental perorangan maupun keluarga, penggiatan sebanyak dan seluas mungkin kelompok-kelompok dukungan (support groups) untuk berbagai bidang masalah kesehatan mental, sampai dengan bentuk-bentuk inovatif dalam intervensi krisis seperti tendensi bunuh diri. Saling mengedukasi mengenai penggunaan teknologi sebagai pemungkin (enabler) “perasaan keterhubungan dengan semua pihak yang peduli” adalah urgen dibutuhkan di masa pandemi ini di mana terjadi pembatasan fisik di berbagai tempat hingga hari ini.

Sederhananya, berbagai pendekatan untuk merawat kesehatan mental hanya akan efektif jika kerangkanya adalah usaha bersama untuk "berlomba-lomba berbuat baik" sesuai kekuatan, keahlian dan keterampilan, dan merupakan kepaduan antara pendekatan formal dan pendekatan informal.

“Namun konotasi 'lomba' di sini hendaknya bukanlah 'kompetitif' melainkan 'kolaboratif'. Pendekatan urun daya (crowdsourcing), dengan memobilisasikan baik ahli maupun non-ahli untuk berpartisipasi menghasilkan pengetahuan dan berbagai praktik solutif bersama dalam kesehatan mental, dapat diterapkan dalam membangun layanan kesehatan mental yang tangguh. Hal ini karena Indonesia, lebih khusus orang-orang mudanya, tidak kekurangan gairah untuk menciptakan startup companies di bidang kesehatan pada umumnya maupun spesifik kesehatan mental,” lanjutnya.

Namun tak terpungkiri, gejala startup silos juga tengah terjadi, seperti misalnya mengklaim organisasinya paling kompeten di semua tingkat penanganan masalah kesehatan mental, atau bahwa semua pihak lain harus berada dalam naungan organisasinya agar bisa berjuang di bidang tersebut. Hal ini akan kontraproduktif untuk dapat meminimalisasikan dampak buruk pandemi terhadap kesehatan mental.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini