Jelang 2 Tahun Covid-19, Refleksi Dampak Pandemi Penting untuk Kesehatan Mental

Susi Susanti, Okezone · Selasa 19 Oktober 2021 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 65 2488557 jelang-2-tahun-covid-19-refleksi-dampak-pandemi-penting-untuk-kesehatan-mental-9NaZq8ZFoE.jpg Ilustrasi kesehatan mental (Foto: Medical Daily)

JAKARTA - Akhir-akhir ini, statistik data kasus Covid-19 menunjukkan penurunan. Pemerintah pun mulai melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat, namun tetap menekankan penegakkan protokol kesehatan (prokes) dan kesiapan hidup bersama Covid-19 yang diperkirakan menjadi endemik. Terdapat pula berbagai prediksi mengenai lonjakan kasus mulai akhir tahun ini.

Psikolog sosial dan dosen Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara sekaligus Pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) pada Kompartemen Riset dan Publikasi Juneman Abraham, mengatakan sejumlah situasi tersebut mengajak kita untuk merefleksikan dampak pandemi berkepanjangan ini terhadap kesehatan mental, serta melihat hal-hal yang mungkin dilakukan untuk merawatnya.

“Hal ini amat penting sebagai pembelajaran untuk masa depan kesehatan bangsa ini, karena, seperti definisi WHO, “Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental,” terangnya.

(Baca juga: Penyebab Perempuan Lebih Rentan Depresi Selama Pandemi)

Dia mencontohkan frustrasi di bidang ekonomi, misalnya tidak bisa bekerja akibat PHK atau pun berdagang/berusaha akibat pembatasan sosial, khususnya yang hanya dijalankan melalui offline channel) serta frustrasi budaya yakni budaya guyub, suka kumpul, yang entah kapan bisa diaktualkan lagi secara intensif seperti sebelum pandemic masih merupakan dua faktor yang berpengaruh cukup besar terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia akibat pembatasan.

"Ketidakpastian di kedua bidang itu memicu dan memperparah kecemasan, perasaan terisolasi, perasaan tidak mampu menjangkau (atau pun dijangkau) orang-orang terkasih, hingga meningkatkan kecenderungan untuk melakukan “agresi” eksternal (menyerang orang lain) maupun “agresi” internal (menyakiti diri sendiri)," lanjutnya.

Baca juga: Hari Kesehatan Mental Sedunia: Selain Cintai Diri Sendiri, Self Love Juga Harus Mampu Memaafkan

Berdasarkan data tentatif dan terbatas (disebut 'terbatas' karena belum dilakukan analisis khusus dan rilis resmi) dari layanan Sehat Jiwa (SEJIWA) Himpunan Psikologi Indonesia, muncul beberapa kasus yang perlu mendapat perhatian khusus, yakni pemikiran maupun percobaan bunuh diri, yang kemudian dirujuk ke layanan tingkat lanjut.

Pada kasus-kasus tersebut, problem familial/keluarga mendominasi di atas semata-mata problem personal/pribadi atau pun problem relasi pertemanan. Tema-tema masalah yang sering muncul dalam layanan SEJIWA yang berasosiasi dengan pemikiran bunuh diri adalah mencakup masalah ekonomi akibat PHK, masalah kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan pasangan, kesepian dalam keluarga, merasa tidak dipahami/dicintai/diterima oleh anggota keluarga lainnya. Memang ada masalah yang muncul sejak pandemi, namun tidak sedikit masalah-masalah ini sudah ada sebelum pandemi dan diperparah oleh pandemi.

Dia menjelaskan masyarakat sendiri sebenarnya tidak ingin membiarkan frustrasi tersebut berkepanjangan. Masyarakat Indonesia mulai memantapkan efikasi (rasa mampu diri) dan kecakapan untuk melaksanakan prokes dengan kesadaran; agar pembatasan tidak berkepanjangan dan semakin menciutkan kehidupan mereka. Kita dapat melihat, misalnya, masyarakat sudah mulai berani mengingatkan atau menegur sesamanya yang melanggar prokes, baik langsung maupun tidak langsung (dengan membuat video pelanggaran prokes di lingkungan terdekat mereka dan memviralkan agar menjadi perhatian yang lebih luas, dan biasanya langsung ditindaklanjuti oleh satgas atau aparat). Hal ini menandakan sudah terbentuknya keterampilan dan mekanisme budaya di dalam masyarakat untuk melindungi komunitas masing-masing dari bahaya virus Covid-19.

Di samping kehidupan offline, masyarakat saat ini sudah semakin mengakrabi kehidupan online. Hanya saja, dengan hadirnya kehidupan online yang semakin masif dan intensif di era pandemi, kurangnya keterampilan mengelola kehidupan online menjadi masalah baru yang mengemuka. Pengelolaan kehidupan online saat ini berperan besar pada pengelolaan kehidupan umum. Mengapa? karena kehidupan telah didominasi oleh kegiatan online, termasuk dalam hal mengelola jam kerja, belajar, istirahat, bermain, bercinta, dan mengelola informasi online. Gagalnya manajemen yang berimbang terhadap hal-hal ini turut berdampak pada kesehatan mental.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini