Menteri Nadiem Sebut Cara Belajar di Sekolah Harus Terdisrupsi

Widya Michella, MNC Media · Selasa 05 Oktober 2021 19:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 05 624 2481761 menteri-nadiem-sebut-cara-belajar-di-sekolah-harus-terdisrupsi-joLcxbJNZF.jpg Mendikbud Ristek Nadiem Makarim/ MPI

JAKARTA – Untuk mempercepat proses transformasi sistem pendidikan di era digital, metode belajar di sekolah pun harus terdisrupsi positif dengan berbagai pembelajaran yang didapatkan dalam atau luar kelas. Walaupun begitu hal ini tidak akan mendisrupsi sekolah atau guru di Indonesia.

 (Baca juga: Nadiem : Orang Terpenting dalam Sistem Pendidikan Bukan Menteri, tapi Kepala Sekolah)

"Tapi disrupsi positif dimana guru memiliki akses terhadap banyak sekali pakar-pakar online, dia mau mengajarkan art, punya video art yang bisa ditayangkan di depan muridnya lalu melakukan exercise,” ujar Mendikbud Ristek Nadiem Makarim dalam MNC Forum LIX ke 59 bertajuk "Transformasi sistem pendidikan Indonesia di era digital", Selasa,(5/10/2021).

 (Baca juga: Menteri Nadiem Sering Marah hingga Banting Meja, Ada Apa?)

“Ada juga guru yang ingin belajar sejarah, dia bisa mainkan dokumenter sejarah dari YouTube lalu dia akan berbicara mengenai topik ini,"sambungnya.

Kemudian kata dia, guru dapat meng-upgrade dirinya dengan self learning lewat platform digital online learning untuk guru. Hal ini guna memastikan bahwa setiap guru dapat belajar mengikuti topik yang benar-benar menarik buatnya dan relevan buat murid-muridnya.

Hal semacam itu juga disebut sebagai disrupsi dimana peran guru menjadi fasilitator jauh lebih penting daripada pemegang informasi lalu disampaikan kepada muridnya.

"Itu jauh lebih penting dari guru, bukan guru yang harus mempunyai informasi. Guru yang menginspirasi anak itu untuk menggali informasi nya sendiri,"sambungnya.

Masih kata Nadiem, tugas guru saat ini telah bergeser yang tadinya menyimpan informasi kini menjadi mentor atau coach bagi murid-muridnya untuk dapat menjadi pembelajar sepanjang hidupnya.

"Di dalam SMA sampai universitas menyediakan cukup banyak waktu untuk hal-hal yang bukan cuma belajar langsung ujian. Kita harus mensimulasi relevansi dari pada apa yang menjadi tantangan dia di dunia nyata dalam sistem pendidikan kita. Ini adalah perubahan yang terjadi menurut saya proses pembelajaran,"bebernya.

Oleh karena itu, kata dia, peran guru pun tidak akan pernah bisa digantikan oleh sebuah mesin atau sistem. Hal ini dikarenakan adanya pola emosional antara murid dan guru dalam sistem pembelajaran.

"Mesin itu tidak bisa bilang kepada anak, 'kamu itu bisa' 'saya percaya kamu bisa'. Itu hanya manusia yang bisa melakukan itu,"ucapnya.

Menurut Nadiem, peran guru yang terpenting adalah menimbulkan rasa kepercayaan diri dan rasa ingin tahu murid sehingga ada peningkatan kompetensi secara otomatis bagi peserta didik di sekolah.

"Kalau guru sudah punya filsafat itu adalah guru yang terbaik dan percaya potensi semua muridnya. Ga ada gunanya guru itu super pinter kalau dia tidak punya kedekatan batin dengan muridnya, skeptis terhadap potensi murid nya,"pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini