Covid-19 Varian Mu Ancam Indonesia, Dosen UNS Ingatkan Ini

Tim Okezone, Okezone · Rabu 22 September 2021 17:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 22 65 2475355 covid-19-varian-mu-ancam-indonesia-dosen-uns-ingatkan-ini-Zh0ZZzCUJn.jpg Ilustrasi (Freepik)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah mewaspadai masuknya Covid-19 varian Mu dari luar negeri. Kewaspadaan itu muncul usai Covid-19 varian Mu merebak di 49 negara dunia.

Sejak pertama kali ditemukan di Kolombia, Covid-19 varian Mu yang memiliki nama lain B 1.621, sudah menjadi perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO). Tercatat, hingga Selasa (21/9/2021), Covid-19 varian Mu telah ditemukan di Finlandia, Korea Selatan, Ekuador, hingga Jepang.

Melihat adanya peluang penularan Covid-19 varian Mu di tanah air, 2 dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, yaitu dr Tonang Dwi Ardyanto dan dr Hendrastutik Apriningsih menyampaikan sejumlah hal kepada masyarakat untuk bersiap menghadapi mutasi baru Covid-19 ini.

Pertama, masyarakat diminta tetap mematuhi Protokol Kesehatan (prokes). Hal ini disampaikan dr Tonang Dwi Ardyanto yang menyebut ada atau tidak adanya varian baru Covid-19, masyarakat harus tetap menjalankan Prokes.

Selain itu, dr Tonang Dwi Ardyanto yang juga Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 RS UNS ini mengatakan, masyarakat harus tetap mendapatkan vaksinasi Covid-19, walau tingkat efektivitas vaksin terhadap varian baru Covid-19 akan menurun.

“Menurut kita fokusnya adalah tidak mencari yang Mu yang mana. Jadi, tenang saja tetap jaga Prokes. Tentu vaksin tetap kita jalankan. Ada tidak ada vaksin harus Prokes dan ada Prokes pun ya harus vaksin juga. Jadi, dua-duanya kita jalankan dengan baik,” ujar dr Tonang Dwi Ardyanto, dalam siaran pers yang diterima, Selasa (21/9/2021).

dr Tonang Dwi Ardyanto menerangkan, ketika muncul varian baru dari hasil mutasi Covid-19, secara logis tingkat efektivitas vaksin akan menurun. Itu karena vaksin Covid-19 yang tersedia sudah diproduksi sebelum varian baru Covid-19 muncul.

Namun, ia meminta masyarakat tidak meremehkan manfaat dari vaksin Covid-19. Itu karena tingkat ‘kesakitan’ dan kematian yang dapat disebabkan varian baru Covid-19 tidak akan lebih tinggi jika dibandingkan orang-orang yang belum tervaksinasi Covid-19.

Baca Juga : Rektor UNS Lepas 9 Atlet yang Berlaga di PON Papua

“Contoh di Inggris walau ada varian Delta, tetap angka kematian lebih tinggi pada yang belum divaksinasi. Sekarang yang rame Singapura, karena mereka baru terkena varian Delta dan ketahuan bedanya, ketahuan mana yang belum dan sudah divaksin,” tutur dr Tonang Dwi Ardyanto.

Sementara itu, dosen FK UNS lainnya, dr Hendrastutik Apriningsih menambahkan, mutasi merupakan suatu kebutuhan dari virus untuk tetap dapat hidup.

Pada kasus menularnya Covid-19, dr Hendrastutik menjelaskan penyakit ini memiliki gejala-gejala yang umum. Dalam artian, orang yang sudah terjangkit Covid-19 akan merasakan batuk, sesak napas, pilek, hingga kelelahan.

Namun, khusus untuk Covid-19 varian Mu, ia mengingatkan jika mutasi baru ini akan memunculkan gejala-gejala yang lebih spesifik. Seperti, batuk yang lebih dominan, demam tinggi, dan anosmia.

"Untuk gejala Mu ini hampir sama. Namun, ada tiga yang lebih sering dialami apabila mengalami infeksi Mu ini. Dan, untuk penanganan medis sebenarnya tidak terlalu berbeda dan untuk pencegahan agar tidak terinfeksi juga sama dan yang penting itu Prokes dan menjaga kebersihan,” tutur dr Hendrastutik Apriningsih.

Untuk mengantisipasi masuknya Covid-19 varian Mu ke Indonesia, dr Hendrastutik Apriningsih meminta pemerintah memperketat akses keluar-masuk Indonesia.

Baik warga negara asing atau warga negara Indonesia yang masuk ke tanah air, pemerintah diminta dr Hendrastutik Apriningsih untuk memperlama masa karantina. Tujuannya, agar Covid-19 varian Mu dapat terdeteksi.

Ia tidak ingin kasus penularan Covid-19 melonjak seperti yang terjadi pada Juni-Juli lalu ketika varian Delta merebak di Indonesia.

“Harapannya, agar memperketat dari luar (red: negeri). Misalnya, dari luar masuk ke Indonesia harus dilakukan karantina dalam waktu yang lebih logis dan lama daripada Delta masuk, karena karantina tidak terlalu lama,” ucap dr Hendrastutik.

Tingkat Imunitas Tubuh terhadap Virus

Ia mengatakan, tubuh manusia memiliki dua sistem imun. Pertama, adalah sistem imun bawaan yang didapat sejak lahir dan sistem imun yang didapat dari rangsangan suatu antigen.

Dua sistem imun itu, dinilai dr Tonang Dwi Ardyanto sama-sama penting. Sebab, dengan adanya dua sistem imun tersebut membuat tubuh menjadi semakin mudah mengenali virus yang masuk.

Oleh sebab itu, ia menilai tidak tepat jika ada orang yang menolak divaksinasi Covid-19 karena merasa sudah memiliki antibodi.

“Orang selalu salah kaprah, kenapa divaksin wong sudah punya antibodi, kok? Ibaratnya, imunitas bawaan seperti tentara garis depan. Dari lahir perlu dilatih tapi untuk antibodi sifatnya baru ada ketika ketemu benda asing, entah virus atau bakteri. Nanti, ketika virus X masuk, antibodi kita mengenal, langsung hancurkan,” katanya.

Lebih lanjut, berkenaan dengan beragamnya varian baru Covid-19, ia mengungkapkan semakin banyak mutasi yang dilakukan suatu virus, maka tingkat keganasannya semakin berkurang.

Namun, ia meminta masyarakat untuk tidak lengah. Sebab, walau tingkat keganasan varian baru Covid-19 dinilai akan berkurang, namun potensi penularannya tetap ada.

dr Tonang Dwi Ardyanto tidak ingin kasus membludaknya antrean RS pada bulan Juni-Juli lalu karena Covid-19 varian Delta menyebar terjadi lagi.

“Dalam konsep teoritis alamaiah ketika virus semakin cepat menular maka biasanya akan disertai dengan penurunan tingkat keganasan. Terbukti sebenarnya Delta kecepatan menularnya tinggi, beberapa negara angka kematian karena Delta sebenarnya lebih rendah. Persoalannya nanti kalau yang tertular banyak, RS tidak mampu menampung,” tuturnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini