Mahasiswa UB Ciptakan Pupuk Bio-organik dari Limbah Makanan dan Ternak

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 15 September 2021 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 15 65 2471826 mahasiswa-ub-ciptakan-pupuk-bio-organik-dari-limbah-makanan-dan-ternak-nvv6EWQKV0.jpg 3 Mahasiswa Universitas Brawijaya (Foto: Avirista Midaada)

MALANG - Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) membuat pupuk bio-organik dari limbah makanan dan peternakan. Pupuk kreasi mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) UB ini juga dibuat dengan campuran konsorsium rizobakteri bernama Bioscap.

Inovasi tersebut dilatar belakangi banyaknya limbah makanan dan peternakan yang semakin menumpuk di tempat pembuangan akhir, dan belum dimanfaatkan dengan optimal, seperti cangkang telur, kulit pisang, dan bio-slurry.

Menurut data BPS, produksi cangkang telur di Indonesia mencapai 4.753.382 ton dan produksi kulit pisang di Indonesia mencapai 4.368.394 ton. Sedangkan bio-slurry merupakan limbah sisa pengolahan biogas yang jarang dimanfaatkan dan hanya menumpuk di dalam septic tank.

 (Baca juga: Biskuit dari Ulat Hong Kong Karya Mahasiswa UB Raih Perak di AISEEF)

Padahal limbah - limbah organik tersebut memiliki manfaat dan potensi dijadikan pupuk yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Dari sanalah akhirnya ketiga mahasiswa FP UB yakni Abdillah Amirul Saleh, Alya Shofiya, dan Erik Wahyuni di bawah bimbingan Tita Widjayanti SP., M.Si., menciptakan pupuk bio-organik.

Anggota tim Alya Shofiya menuturkan, bila pupuk bio-organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sebesar 11-22 persen dilihat berdasarkan jumlah daun, tinggi tanaman dan jumlah cabang. Mengingat pupuk ini memiliki sejumlah kandungan yang dapat membuat tanaman tumbuh besar.

 (Baca juga: AFSA, Aplikasi Food Savety Besutan Mahasiswa UB Mampu Cegah Keracunan)

""Penggunaan cangkang telur dapat sebagai sumber kalsum (Ca) dan magnesium (Mg) yang tinggi, kulit pisang dapat sebagai sumber Kalium (K), dan bio-slurry sebagai sumber Nitrogen (N), fosfor (P), dan Kalium (K). Selain itu, BIOSCAP juga mengandung mikroorganisme menguntungkan yaitu Bacillus sp., Pseudomonas sp., Azotobacter sp., Azospirillum sp., dan Aspergillus niger yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas pertumbuhan," kata Alya Shofiya, pada Rabu pagi (15/9/2021) melalui keterangan tertulisnya.

Selain itu, pupuk Bioscap dapat berperan sebagai bioprotektan dan biostimulan yang dapat menekan dan menghambat intensitas serangan penyakit. Pupuk ini telah diuji pada tanaman kedelai yang terinfeksi penyakit Soybean Mosaic Virus (SMV).

SMV dapat menurunkan produktivitas tanaman sebesar 25,48 persen hingga 93,84 persen. Penggunaan pupuk Bioscap terbukti mampu menekan intensitas penyakit SMV dan meningkatkan produktivitas kedelai.

Sementara itu Ketua tim Abdillah Amirul Saleh menyampaikan, bila pupuk ini juga difungsikan sebagai solusi petani mengatasi penyakit di tanaman.

“Melalui penemuan ini, diharapkan pupuk ini mampu menjadi solusi bagi petani untuk mengatasi penyakit pada tanaman, khususnya soybean mosaic virus pada kedelai," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini