Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kemendikbudristek Diminta Batalkan Asesmen Nasional Selama Pandemi Covid-19

Neneng Zubaidah , Jurnalis-Jum'at, 30 Juli 2021 |14:10 WIB
 Kemendikbudristek Diminta Batalkan Asesmen Nasional Selama Pandemi Covid-19
Foto: Illustrasi Okezone.com
A
A
A

JAKARTA - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) meminta Kemendikbudristek untuk membatalkan penyelenggaraan Asesmen Nasional (AN), yang rencananya akan digelar pada September-Oktober mendatang. AN terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

“P2G sebagai salah satu organisasi guru tingkat nasional meminta kepada Mendikbudristek Nadiem Makarim untuk membatalkan penyelenggaraan AN selama kondisi masih pandemi Covid-19,” ujar Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri melalui keterangan tertulis, Jumat (30/7/2021).

Baca juga:  Asesmen Nasional, Kemendikbudristek: Dorong Perbaikan Pembelajaran di Sekolah

Pertama, P2G menilai kondisi pandemi Covid-19 belum bisa dipastikan kapan akan berakhir. Dampak signifikan pandemi terhadap dunia pendidikan adalah ancaman "learning loss” meningkatkan angka putus sekolah jenjang SD seperti di Aceh, Jawa Timur, Maluku Utara, NTB, NTT, dan Papua Barat.

PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang sudah 1,5 tahun dilaksanakan masih belum efektif. PJJ melahirkan problematika makin besarnya fakta ketimpangan digital. Sehingga ada siswa dan guru yang sanggup melaksanakan proses pembelajaran, sementara itu banyak siswa dan guru yang tak dapat melakukan PJJ.

“Faktanya sebanyak 20,1 persen siswa dan 22,8 persen guru tak memiliki perangkat TIK seperti: gawai, komputer dan laptop selama PJJ, mengutip Data Kemendikbud, 2021,” ungkap Aggota Dewan Pakar P2G, Suparno Sastro.

Baca juga:  Ganti UN dengan AN, Kemendikbud Klaim Sudah Sosialisasi

Suparno melanjutkan, dengan fakta ketimpangan digital selama PJJ, Permendikbud No.17 tahun 2021 tentang Asesmen Nasional Pasal 5 ayat 4, justru menambah ketimpangan menjadi diskriminasi baru bagi siswa. Yakni prasyarat AN harus dilaksanakan di tempat yang memiliki akses internet.

Realitanya ada sekitar 120 ribu SD yang belum memiliki TIK (komputer) minimal 15 paket. Termasuk 46 ribu sekolah yang sama sekali tidak punya akses internet bahkan aliran listrik. Belum ditambah kualitas sinyal internet yang buruk di beberapa wilayah.

“P2G berharap ada "grand strategy" dari Kemendikbudristek untuk mengantisipasi dan menanggulangi semua ini. Jangan sampai berakibat pada bencana demografi yang kita tanggung nanti,” tambah Suparno.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement