Share

Kenali 3 Profesor Riset BATAN, Simak Penelitiannya tentang Iptek Nuklir

Maylisda Frisca Elenor Solagracia, Okezone · Rabu 20 November 2019 13:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 20 65 2132185 kenali-3-profesor-riset-batan-simak-penelitiannya-tentang-iptek-nuklir-YAyvOaxSMZ.jpeg Profesor Batan (Foto: Okezone.com)

2. Budi Setiawan sebagai profesor riset ke-54 di bidang Kimia Fisika

Budi Setiawan, sebagai profesor riset bidang kimia fisika mengawali karirnya sebagai Ajun Peneliti Utama pada tahun 1996. Hingga saat ini, ia telah menghasilkan 93 Karya Tulis Ilmiah baik yang ditulis sendiri maupun dengan orang lain.

Budi Setiawan dalam operasinya mengatakan, meningkatnya aplikasi iptek nuklir di berbagai aspek kehidupan dapat meningkatkan volume dan jenis limbah radioaktif. Penyiapan fasilitas disposal limbah radioaktif di masa depan akan menjadi tantangan nyata bagi BATAN.

"Bahan alam Indonesia dapat berkontribusi menjawab tantangan permasalahan keselamatan fasilitas disposal. Untuk keperluan tersebut, maka kemampuan serap terhadap Cs-137 oleh bahan alam seperti tanah lempung, bentonit, kaolin dan pasir kuarsa harus dipelajari secara berkelanjutan," kata Budi Setiawan.

Baca Juga: Ketahuan Plagiat, Gelar Akademik 4 Profesor Dicabut

Kondisi yang selamat dari suatu fasilitas disposal menurut Budi Setiawan, merupakan implikasi dari kemampuan suatu fasilitas disposal mengisolasi paket limbah radioaktif.

Lolosnya radionuklida seperti Cs-137 ke lingkungan, yang diindikasikan dengan tingginya konsentrasi Cs-137 di badan air(?) dan laju dosis ke lingkungan menunjukkan lemahnya kemampuan suatu fasilitas disposal mengisolasi limbah radioaktif.

3. Heni Suseno sebagai profesor riset ke-55 di bidang Kimia Radiasi.

Heny Suseno menjadi Profesor Riset bidang kimia radiasi mengawali karier jabatan fungsional peneliti sebagai peneliti ahli muda pada tahun 1997. Selama kariernya, ia telah menghasilkan 59 karya tulis ilmiah baik yang ditulis sendiri maupun bersama penulis lainnya.

Dalam orasinya, Heni Suseno mengatakan, Indonesia telah siap melaksanakan secara penuh dan komprehensif dalam studi radioekologi kelautan. Studi tersebut sangat bermanfaat untuk pra pembangunan PLTN, proteksi lingkungan terkait operasional fasilitas nuklir maupun antisipasi masuknya kontaminan radioaktif ke perairan laut Indonesia.

BATAN

"Studi radioekologi kelautan ini tidak terbatas pada monitoring lingkungan saja namun ditambahkan pemodelan dispersi, bioakumulasi dan kajian resiko. Base line data nasional terkait radioaktivitas di perairan laut telah dihasilkan dan dapat dijadikan acuan sebagai pembanding dan untuk memprediksi konsentrasi dan kecenderungannya di masa yang akan datang," kata Heni Suseno.

Heni menjelaskan, implementasi teknik nuklir berkontribusi dan melengkapi studi dinamika lingkungan, salah satunya adalah bioakumulasi logam berat.

Penggunaan perunut radioaktif pada studi ini berkontribusi dalam perbaikan riset konvensional yang selama ini dilakukan dan dihasilkan data yang lebih realistik yang merepresentasikan kondisi ekosistem yang sebenarnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini