Ketiga mahasiswa tersebut mendesain DC Mouse dengan bantuan Software Autodesk Inventor dan mencetak prototipe menggunakan Mesin 3D Printer. Selanjutnya dirakit dengan komponen elektronis dari sensor optik yang dihubungkan dengan USB tranceiver ke komputer. Namun, Sayangnya, media input komputer saat ini belum mampu mengakomodisasi kebutuhan peyandang tunadaksa. Salah satunya bentuk mouse yang belum bisa mengakomodasi keterbatasan fisik penyandang tunadaksa.
“Berdasarkan pengujian terhadap responden dihasilkan bahwa DC Mouse mampu dioperasikan dengan akurasi ketepatan pointer paling tinggi mencapai 100 persen, efisiensi 20 persen, dan jumlah klik 5,3 kali per detik. Sedangkan dalam tiga kali replikasi didapatkan rata-rata ketepatan 49 persen, efisiensi 24 persen, jumlah klik 3,7 klik per detik, dan jumlah scroll 400 pixel per detik. “ ujar Zhafran.
Walau hasil pengujian membuktikan bahwa DC Mouse sudah layak dan pakai dan berhasil memperoleh dana hibah dari Kemenristekdikti dan lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-32 teknologi ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut sebelum menuju tahap komersialisasi.
(Rani Hardjanti)