Juga terdapat sesi konseling di mana para remaja bisa mencurahkan segala masalah yang mereka alami.
Para tenaga konseling juga membantu mereka untuk tahu kapan berhenti menggunakan telepon mereka dan untuk mengubah sikap mereka terhadap gawai-gawai mereka.
Manajer kamp, Yong-chul Shim, menjelaskan, "Di sini, kami mencoba untuk memberi mereka alternatif dari internet, gim dan media sosial.
"Ketika kami menjalankan kamp, kami mencoba banyak aktivitas untuk menunjukkan kepada para remaja bahwa mereka bisa memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang lebih baik di luar dunia siber."
BBC Newsround menemui Hawon (17 tahun), yang mengikuti kamp itu karena kecanduannya menonton YouTube.
"Saya menonton YouTube setiap hari, terkadang selama 18 jam," ujarnya.
"Saya membawa telepon genggam saya ke kamar mandi, atau ketika saya makan, saya menggenggamnya. Dalam pikiran saya, saya seperti 'Saya akan menonton untuk satu jam saja', namun kemudian itu berlanjut dan berlanjut. Sulit untuk berhenti."
Hawon mengatakan bahwa hidup di Korea Selatan bisa sangat membuat stres, terutama sebagai seorang anak muda yang diharapkan bisa belajar dengan keras di sekolah.
Untuk itu, ia pikir banyak orang Korea yang menggunakan telepon genggam sebagai pelipur stres. Hawon sendiri menjelaskan bagaimana dengan menonton YouTube ia merasa lebih bahagia.
Akan tetapi, banyak menonton YouTube ternyata membawa dampak yang besar dalam hidupnya.
"Hal itu memengaruhi prestasiku di sekolah dan ketika saya dan teman-teman bertemu, kami hanya melihat telepon genggam kami dan tidak mengobrol. Saya tertidur di kelas. Saya sering marah pada orang lain entah kenapa."
Ia sadar bahwa itu telah menjadi masalah yang harus segera ditangani dan menganggap bahwa kamp kecanduan internet adalah cara yang tepat.
"Saya ingin mengatasi kecanduan itu, untuk melihat yang ada di sekeliling saya, bukan hanya telepon saya," ujar Hawon. "Ini adalah kesempatan bagi saya untuk memperbaiki masalah yang saya punya."
Hawon adalah satu dari 10 remaja perempuan di kamp di Muju. Kamp-kamp ini biasanya berlangsung selama satu hingga empat minggu, tergantung seserius apa kecanduan mereka.
Pada hari pertama kamp, telepon genggam Hawon diambil darinya, yang ia rasa sangatlah sulit dan ia pun berpikir bagaimana mungkin ia bisa menjalani sesi tanpanya.
Salah satu karyawan kamp, Tae-joon Kim, menjelaskan bagaimana para remaja yang ikut kamp merasa sangat sulit kehilangan telepon genggam mereka dan mengatakan bahwa mereka ingin pulang saja.
"Dari saat mereka menyerahkan telepon genggam, mereka langsung merasa kesulitan," ujarnya.
Namun seiring berganti hari, Hawon mulai terbiasa hidup tanpa telepon genggamnya.
Ia merasa optimis bahwa selepas mengikuti kamp, ia akan bisa mengurangi durasi waktu yang ia habiskan untuk menonton video di internet.
Ia berharap untuk menghabiskan waktu luang yang ia punya bersama keluarganya.
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik