JAKARTA - Korea Selatan adalah negara dengan tingkat konektivitas internet tertinggi di dunia. Hampir setiap orang punya telepon pintar dan akses internet. Namun kini muncul sisi gelap dari capaian tersebut.
Angka resmi tahun lalu menunjukkan bahwa lebih dari 140.000 anak muda kecanduan internet. Namun sejumlah laporan menunjukkan bahwa angka itu pada kenyataannya bisa jadi jauh lebih tinggi.
Dampaknya, banyak sekali pusat penanganan yang dibuka di seantero Korea di mana para remaja bisa mendapat perawatan untuk masalah ini dan mendapat bantuan untuk bisa lepas dari kecanduan internet. Demikian dikutip dari BBC, Kamis (11/7/2019).
Baca Juga: Mengenal Nomophobia dan Cara Mengatasinya di Tempat Kerja
Sekolah juga telah mengenalkan program khusus untuk mencoba menghentikan anak-anak dari bahaya kecanduan internet.
Dalam sebuah kunjungan ke sebuah kamp kecanduan internet di kawasan bernama Muju, Korea Selatan, terungkap tentang masalah ini.
Apa itu kecanduan internet?
Kecanduan terhadap sesuatu terjadi ketika seseorang tidak memiliki kontrol terhadap aksinya dalam melakukan, mengonsumsi maupun menggunakan sesuatu hingga pada titik di mana hal tersebut dapat membahayakan diri mereka sendiri, menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS).
Maka, kecanduan internet terjadi ketika seseorang menggunakan internet terlalu banyak hingga akhirnya berdampak negatif terhadap kesehatan mental maupun fisik, atau keduanya.
Hal ini bisa memengaruhi perilaku seseorang dan bagaimana mereka berinteraksi di dunia nyata.
Mereka bisa lupa waktu dan mengabaikan kebutuhan dasar mereka, seperti makan atau tidur.
Seperti halnya kecanduan yang lain, tidak bisa bermain internet juga bisa menyebabkan masalah bagi seseorang yang kecanduan - misalnya, merasa marah atau sedih.
Apa itu kamp kecanduan internet?
Kamp kecanduan internet adalah tempat di mana orang-orang bisa mendapat bantuan untuk mengobati hubungan tidak sehat yang dimiliki dengan internet.
Mereka bisa memperlajari sejumlah teknik untuk membantu mereka menjadi lebih tidak ketergantungan dengan dunia daring dan untuk mengubah perasaan mereka tentang pengalaman bermain internet.
Baca Juga: Kiat Cerdas agar Anak Tidak Kecanduan Main Gadget
Sejak tahun 2014, lebih dari 1.200 anak muda telah mengikuti kamp kecanduan internet serupa, seperti yang dilakukan Hawon.
Di kamp di Muju, peraturannya sangat ketat dan telepon genggam tidak boleh dibawa masuk. Sesampainya para peserta di sana, mereka harus menyerahkan semua peralatan elektronik mereka, termasuk alat-alat seperti pelurus rambut.
Kamp itu berfokus untuk membantu para remaja merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri ketika tidak memegang telepon genggam.
Beberapa sesinya termasuk sesi kerajinan tangan, olahraga, permainan dan aktivitas yang dirancang untuk membantu anak-anak muda keluar dari dunia digital dan kembali ke dunia nyata.
Ide awalnya adalah bahwa aktivitas-aktivitas itu dapat membantu mereka menemukan cara lain untuk merasa senang dan santai, alih-alih mendapat 'likes' dan memenangkan suatu gim online.
Image caption Di kamp, para remaja didorong untuk bermain dan melakukan aktivitas yang membuat mereka lebih terlibat dengan dunia nyata, ketimbang di dunia digital.