Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

10 Tulisan Kuno Penuh Teka-Teki yang Belum Terpecahkan

10 Tulisan Kuno Penuh Teka-Teki yang Belum Terpecahkan
Tulisan kuno hingga kini masih ada yang belum terpecahkan. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan untuk naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Palembang, dan bahasa Sasak). Aksara Jawa modern adalah modifikasi dari aksara Kawi dan tergolong aksara abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”.

Aksara Bali

Aksara Bali adalah aksara tradisional masyarakat Bali. Aksara Bali merupakan suatu abugida yang berpangkal pada huruf Pallawa. Aksara ini mirip dengan aksara Jawa. Perbedaannya terletak pada lekukan bentuk huruf. Aksara Bali berjumlah 47 karakter, 14 di antaranya merupakan huruf vokal (aksara suara). Huruf konsonan (aksara wianjana) berjumlah 33 karakter. Aksara wianjana Bali yang biasa digunakan berjumlah 18 karakter. Juga terdapat aksara wianjana Kawi yang digunakan pada kata-kata tertentu, terutama kata-kata yang dipengaruhi bahasa Kawi dan Sanskerta.

Aksara Bugis (Lontara)

Lontara adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar atau lebih luas sebutan naskah bagi rakyat Sulawesi Selatan. Kata ini diambil dari lontar atau palem tal (Borassus flabellifer). Dengan begitu, lontaraq adalah naskah yang ditulis pada daun tal, tradisi yang juga dilakukan oleh orang Sunda, Jawa, dan Bali dalam menulis naskah.

Aksara Rejang (Bengkulu)

Aksara Rejang dikenali sebagai nama tempatan Surat Ulu, ialah satu abugida keluarga tulisan Brahmi, dan berkait dengan aksara-aksara lain di kawasan itu, seperti aksara batak, aksara Bugis dan lain-lain. Aksara Rejang adalah ahli kepada kumpulan aksara-aksara Surat Ulu berkait rapat yang mengandungi varians aksara Bengkulu, Lembak, Lintang, Lebong dan Serawai. Aksara itu digunakan sebelum kedatangan Islam ke kawasan Rejang; dokumen terawal yang menjadi bukti adalah bertarikh pertengahan kurun ke-18M.

Aksara Kaganga (Sunda)

Aksara Sunda masuk dalam kategori unik yang dikemudian disebut aksara Kaganga. Menurut penelitian, ada beberapa macam huruf yang digunakan oleh orang Sunda pada zamannya. Pertama adalah huruf Kaganga kuno, kedua adalah huruf Kaganga modern yang merupakan huruf Sunda aslinya, ketiga adalah huruf Brahmi Pra Asoka, dan keempat adalah huruf Brahma Masa Asoka yang berasal dari India. (Koran Sindo)

 

(Rani Hardjanti)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement