JUBA – Ribuan anak Sudan Selatan telah melanjutkan studi mereka dalam Program Pendidikan Darurat Sudan Selatan (EEP). Program tersebut didukung oleh Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UNICEF, sejak 2014.
Mereka sebelumnya dipaksa putus sekolah, karena adanya konflik perang saudara Sudan Selatan, pada 2013.
Konflik tersebut mengakibatkan kerusakan dan penjarahan gedung sekolah selama lebih dari empat tahun. Hal ini membuat jutaan orang, meninggalkan rumah mereka, sehingga sebagian anak terdampak secara psikologis.
Menteri Pendidikan Umum Sudan Selatan Deng Deng Hoc Yai mengatakan meskipun 464.844 anak mendaftarkan diri kembali di sekolah dasar. Sudan Selatan perlu meningkatkan pendaftaran melalui penambahan pusat-belajar, sementara yang didukung oleh UNICEF di bawah Dinas Pendidikan Darurat Dasar (IEES), proyek tiga-tahun di bawah EEP.
"Kita perlu berbuat lebih banyak, sebab ada laporan yang diproduksi Organisasi Pendidikan, Sains dan Kebudayaan (UNESCO) buat Kementerian (Pendidikan) bahwa ada dua juta anak yang putus sekolah dan jumlah ini tampaknya akan bertambah jadi 2,4 juta anak jika kita tak berbuat apa-apa," kata Yai, Selasa (17/7/2018).
Yai menambahkan mereka perlu menyediakan ruang-belajar sementara untuk melayani lebih banyak anak usia sekolah di daerah pedesaan, yang tersedia sedikit sekolah.