Meneropong Nasib Trisakti dan UNJ di 2018

Susi Fatimah, Okezone · Kamis 04 Januari 2018 16:17 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 04 65 1840055 meneropong-nasib-trisakti-dan-unj-di-2018-61CHVAi2Nt.jpg Foto: Dok Okezone

JAKARTA - Polemik yang terjadi di Universitas Trisakti hingga kini belum menemukan titik terang. Kampus yang berdiri sejak 1966 tersebut semula berjalan lancar hingga tahun 1998 dan berstatus sebagai perguruan tinggi swasta di bawah naungan yayasan. Namun konflik mulai terjadi sejak 1998 hingga saat ini tak kunjung tuntas.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, konflik Trisakti terjadi pada rentang 2006-2010, dan puncaknya terjadi pada 2010.

"Trisakti ini aset negara, mau jadi (kampus) negeri atau swasta silakan. Ada aturan yang harus diikuti," ujar Nasir dalam acara Bedah Kinerja 2017 dan Fokus Kinerja 2018 di Gedung D Kemristekdikti, Kamis (4/1/2018).

(Baca juga: Kualitas Penerima Beasiswa ADik Masih Lemah, Kenapa Ya?)

Saat ini, sambung Nasir, beberapa pendekatan sudah dilakukan untuk menyelesaikan konflik Trisakti agar segera menemukan titik temu. Di bawah Prof dr Ali Ghufron Mukti M.Sc selaku Plt Rektor Trisakti diharapkan dapat segera menemukan titik terang dalam kasus yang berlangsung sudah puluhan tahun tersebut.

Sementara itu, terkait kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang terbelit kasus plagiarisme, Nasir mengaku heran dengan maraknya plagiarisme di kampus tersebut.

"UNJ ini sebenarnya persoalan ada pada UNJ nya khususnya doktoralnya. Masak dalam 9 bulan seorang penguji bisa meluluskan 108 doktor, ini tentu aneh. Masa studi doktor itu kan 3-5 tahun," tutur mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro itu.

Oleh karenanya, Nasir membentuk tim yang bertugas mencari tahu dan menyelesaikan kasus plagiarisme yang terjadi di kampus tersebut. Ia juga sudah menunjuk Prof Dr Intan Ahmad Ph.D selaku Plt Rektor UNJ untuk memperbaiki sistem yang ada. Ia berharap kasus Trisakti dan UNJ akan menemukan titik terang.

Seperti diketahui, ama Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tercoreng akibat dugaan plagiarisme disertasi yang dilakukan sejumlah alumni pascasarjana. Kasus plagiat tersebut menimpa Nur Alam, Gubernur Sulawesi Tenggara yang resmi menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak 2016 lalu.

Disertasi Nur Alam yang terindikasi melakukan plagiat tersebut bertajuk "Evaluasi Program Bank Perkreditan Rakyat Bahteramas di Provinsi Sulawesi Tenggara".

Berkat disertasi tersebut, Nur Alam lulus menyandang predikat suma cumlaude. Ia memperoleh IPK Matkul 3.95, nilai ujian tertutup 3.86 dan ujian terbuka 3.87, dan tergolong lulus dengan pujian.

Namun, Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) UNJ menemukan bahwa disertasi Nur Alam tersebut terindikasi menyadur dari laman-laman penyedia arsip disertasi di internet. Saduran tersebut terdapat pada Bab I sebanyak 74,4 persen dari tulisan di laman penyedia arsip disertasi. Kemudian, Bab II dan Bab III, Tim EKA menemukan kejanggalan lain, yakni ketidaksinambungan tulisan di bab-bab tersebut dengan isi disertasi yang ditulis.

Bahkan, dituliskan pula bahwa sebagian besar isi dari Bab II dan III disertasi Nur Alam terindikasi plagiat dari artikel yang tersebar di internet. Bukan itu saja, Bab IV disertasi Nur Alam juga diduga plagiat dari Tugas Akhir (TA) mahasiswa Diploma 3.

TA yang diduga dijiplak Nur Alam adalah TA Mahasiswa Program Studi Keuangan dan Perbankan Universitas Sebelas Maret (UNS). Tajuk TA tersebut adalah "Strategi Penghimpunan dan Pengelolaan Dana Pihak Ketiga di PT BPR Nguter Surakarta".

Padahal, sidang promosi doktor Nur Alam di UNJ tersebut dipimpin langsung oleh Rektor UNJ kala itu Prof Dr H Djaali dan Prof Dr Maruf Akbar M Pd dan sejumlah guru besar sebagai anggota panitia ujian doktor.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini