BOGOR - Guru Besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Wasrin Syafii mengembangkan beragam obat dari ekstrak beberapa jenis pohon. Obat-obat yang dihasilkan meliputi antikanker, antimalaria, dan antidiabetes.
Pemanfaatan zat ekstraktif kayu menjadi beragam obat tersebut dimaksudkan agar semua bagian kayu dapat dimanfaatkan. Zat ekstraktif yang digunakan bersifat bioreaktif, sehingga sangat ideal bila digunakan sebagai bahan baku industri farmasi.
Prof. Wasrin mengatakan, penelitian tersebut bertujuan mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa aktif antikanker yang mungkin saja terdapat dalam kayu surian dan kayu suren.
Dia pun menggunakan zat ekstraktif kayu surian (Toona sinensis) dan kayu suren (Toona sureni) sebagai zat antikanker. Kedua pohon tersebut merupakan pohon yang banyak ditanam pada hutan rakyat, sehingga bahan baku dapat dengan mudah didapatkan.
"Dari hasil karakterisasi kimia fraksi aktif kedua jenis kayu tersebut ditemukan senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan antipoliferisasi sel kanker prostat, sel kanker payudara, sel kanker paru, sel kanker usus besar, sel kanker serviks HeLa dan sel kanker limfoma Raji," katanya, Minggu (19/2/2017).
Selain menemukan zat antikanker dalam kayu surian dan kayu suren, Prof. Wasrin juga melakukan penelitian untuk menemukan zat antimalaria pada kayu bidara laut (Strychnos ligustrina). Kayu tersebut berasal dari Nusa Tenggara Barat dan biasa digunakan masyarakat setempat sebagai obat tradisional.
"Penelitian ini sangat penting karena persediaan obat malaria masih sangat sedikit di Indonesia, terlebih lagi penyakit malaria merupakan masalah besar di Indonesia yang perlu segera ditangani," jelasnya.
Hasil ekstraksi tersebut diketahui kayu bidara laut mengandung etanol dengan kadar cukup tinggi. Senyawa yang terkandung dalam etanol tersebut diantaranya adalah strikinin dan brusin yang disinyalir merupakan senyawa antimalaria.
Untuk antidiabetes, merupakan zat ekstraktif lain yang ditemukan. Pohon yang memiliki kandungan tersebut adalah jabon merah (Anthocephalus macrophyllus) dan kina ledger (Cinchona ledgeriana) yang termasuk ke dalam famili Rubiaceae.
"Setelah dilakukan pengujian antidiabetes terhadap ekstrak etanol jabon merah dan kina ledger, ditemukan hasil bahwa aktivitas antidiabetes tertinggi terdapat pada kulit jabon merah dan daun kina ledger," terangnya
Setelah dilakukan analisis terhadap ekstrak etanol tersebut, terindikasi bahwa ekstrak etanol kulit jabon merah dan daun kina ledger memiliki senyawa-senyawa yang diduga memiliki kemampuan antidiabetes.
"Penelitian yang saya lakukan, terutama kayu bidara laut untuk obat malaria, masih bersifat eksploratif dan masih dalam skala laboratorium secara in vitro. Penelitian berikutnya masih dalam skala laboratorium tetapi secara in vivo. Setelah itu baru dilanjutkan untuk scaling up," terangnya.
Menurutnya, penelitian ini sangat mungkin diaplikasikan dalam skala besar. Namun, untuk produksi massal diperlukan kerjasama dengan lembaga lain yang mempunyai kompetensi dalam pembuatan seperti bio-farmaka, fakultas farmasi, atau dengan pabrik obat.
"Bahan baku tersebut relatif mudah didapatkan, kecuali bidara laut sudah jarang ditemui sehingga bila dilakukan scaling up terhadap obat antimalaria dari pohon tersebut diperlukan budidaya agar dapat memenuhi suplai bahan baku," pungkasnya.
Atas inovasinya tersebut, Prof. Wasrin terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan dari '108 Inovasi Indonesia Paling Prospektif 2016'.
(Susi Fatimah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik