Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ki Hadjar Dewantara Pernah Nyantri di Prambanan

Taufik Budi , Jurnalis-Senin, 02 Mei 2016 |16:04 WIB
Ki Hadjar Dewantara Pernah <i>Nyantri</i> di Prambanan
Raden Mas Suwardi Surryaningrat alias Ki Hadjar Dewantara bersama istrinya Raden Ajeng Sutartinah. (Foto: Prabowo/Okezone)
A
A
A

SEMARANG - Kita mengenal Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Tokoh nasional ini giat memperjuangkan pendidikan melalui sekolah yang dia dirikan yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Sukses dalam membina dunia pendidikan, pria yang bernama asli Suwardi Suryaningrat itu lantas menjabat sebagai Menteri Pengadjaran era Soekarno pada 2 September 1945 -14 November 1958. Kemudian, dia juga mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional kedua.

Penulis buku "Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945", Zainul Milal Bizawie, menyebut, Ki Hajar Dewantara juga merupakan seorang santri. Dia menimba ilmu agama di kawasan Prambanan, Magelang. Hal itu juga tercatat di Sejarah Taman Siswa.

"Salah satu gurunya adalah seorang Kiai namanya Kiai Sulaiman Zainuddin, di kawasan Prambanan. Santrinya banyak, salah satunya Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Dia seorang santri, tapi sayang sejarahnya Ki Hajar Dewantara dulu belajar Alquran tidak pernah diterangkan oleh guru-guru di sekolah," ujarnya.

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Walisongo Semarang, Rikza Chamami, menyampaikan, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2016 mestinya menjadi refleksi untuk meneladani perjuangan Ki Hajar Dewantara.

"Tidak benar jika Hardiknas hanya berisi pawai, upacara dan lomba-lomba yang isinya tidak edukatif. Bangkitkan pendidikan Indonesia dengan visi kemajuan dan perdamaian," tutur Rikza kepada Okezone, Senin (2/5/2016).

Rikza mengatakan, penentuan 2 Mei sebagai Hardiknas merupakan hari lahir Raden Mas Suwardi Suryaningrat di Pakualaman 2 Mei 1888. Kemudian, dia berganti nama pada 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara.

"Kenapa Ki Hadjar Dewantara diabadikan sebagai tokoh pendidikan? Dialah yang berani mendobrak sistem pendidikan pribumi. Ki Hadjar Dewantara memperjuangkan hak pendidikan para warga pribumi dengan perjuangan yang luar biasa," jelasnya.

Jiwa kritisnya terhadap kolonial Belanda menjadikannya diusir dari Jawa dan diasingkan ke Bangka hingga ke Belanda (1913). Bersama tiga serangkai, Ki Hadjar Dewantara, Ernest Doewes dan Cipto Mangunkusumo, muncul ide-ide pendidikan untuk kaum pribumi.

"Sepulang dari Belanda pada September 1919, Ki Hadjar Dewantara mulai konsentrasi di bidang pendidikan. Ki Hadjar Dewantara kemudian bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar di Taman Siswa," pungkasnya.

Ikuti try out online SBMPTN 2016 Okezone di laman: tryout.okezone.com pada 25 April-10 Mei. Ada hadiah menarik bagi peserta dengan nilai tertinggi, lho!

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement