JAKARTA - Test of English as a Foreign Language Institutional Test Program (TOEFL ITP) merupakan salah satu instrumen untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris yang diakui secara internasional. Bagi masyarakat Indonesia, umumnya skor tes ini digunakan guna memenuhi syarat beasiswa ke luar negeri atau program pertukaran pelajar.
Berdasarkan data dari Indonesian International Education Foundation (IIEF), rata-rata skor TOEFL orang Indonesia belum mencapai 500. Padahal, di tingkat ASEAN, kemampuan bahasa Inggris orang Indonesia bukan termasuk yang terburuk.
"Rata-rata skor TOEFL orang Indonesia 470. Memang kenyataannya belum mencapai 500. Angka itu keseluruhan dari berbagai daerah karena kita ada datanya," ucap Direktur IIEF, Diana Kartika Jahja, saat berbincang dengan Okezone di JW Marriot Jakarta, Kamis (10/3/2016).
Diana tak menampik ada kesenjangan skor TOEFL antara orang-orang dari kota besar dan daerah pelosok. Pada umumnya, orang kota memperoleh skor lebih tinggi lantaran mudah mengakses pendidikan bahasa Inggris, seperti melalui kursus, buku, TV kabel, dan lain sebagainya yang mendukung proses belajar.
"Selain itu yang lancar berbahasa Inggris sebenarnya banyak. Tetapi yang nyaman untuk menggunakannya masih belum banyak," terangnya.
Nyaman berbahasa Inggris, tutur dia, adalah ketika seseorang mau meggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi. Selain itu, Diana juga turut menyayangkan orang Indonesia yang menganggap penggunaan bahasa Inggris bermakna sok Inggris atau tak cinta Tanah Air.
"Sekarang bukan hanya MEA, tetapi juga memasuki global citizen. Tidak usah takut dibilang sok Inggris. Sekarang yang penting kita nyaman menggunakan bahasa Inggris, enggak hanya untuk menjawab, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari, dari negoisasi sampai bergosip," tandasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik