JAKARTA - Bisa mengikuti program #Menyapa Negeriku yang digagas oleh Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), memberikan pengalaman berharga bagi para pesertanya. Selain bisa mengetahui berbagai kondisi pendidikan di Indonesia secara langsung, mereka juga bisa berkontribusi nyata bersama para guru Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) di sana.
Salah satu peserta #Menyapa Negeriku yang mendapat kesempatan untuk mengunjungi Kepulauan Anambas di Riau, Ira Rachmawati menyatakan, negara perlu ikut hadir untuk bisa menjadi mesin cetak bagi terciptanya guru-guru yang berkualitas.
"Secara pribadi, SM3T itu hanya solusi perantara. Karena SM3T muncul dengan adanya masalah, bila tidak ada masalah maka tidak akan ada SM3T," ujar Ira saat acara Menyapa Negeriku - 1.000 Cerita dari Ujung Negeri, di Gedung Dikti, Jakarta, Senin(21/12/2015).
Menurut Ira, waktu lima hari yang diberikan padanya untuk bisa mengunjungi Anambas dan melihat dunia pendidikan di Indonesia secara nyata tidaklah cukup. "Mungkin saya butuh lima kali untuk hidup, untuk bisa berkeliling mengunjungi Indonesia," ujar kontributor salah satu stasiun televisi swasta di Jawa Timur itu.
Para peserta ini, kata Ira, mungkin adalah anak-anak muda yang minim dengan pengalaman. Namun mereka menjamin dapat memberikan kontribusi lebih baik pada pendidikan di Tanah Air.
"Nantinya kita akan melahirkan anak-anak yang bisa mencintai Indonesia," imbuhnya.
Sementara itu, bagi Ira, bicara mengenai media pembelajaran bukan hanya tentang persedian alat-alat pembelajaran, namun juga memperhatikan hal lain seperti transportasi.
"Anambas itu kaya, tapi mereka belum bisa mendapatkan akses apa pun," tegasnya.
Selain itu, pemerintah perlu juga memerhatikan kearifan lokal. Pasalnya, tutur gadis yang juga berprofesi sampingan sebagai guru TK tersebut, selama ini kebijakan pendidikan Indonesia meluncur dari atas ke bawah.
"Padahal, pendidikan di Papua berbeda dengan yang ada di Anambas. Pendidikan anak-anak yang tinggal di daerah gunung juga berbeda dengan yang ada di daerah pantai," jelas Ira.
Dia menambahkan, idealisme adalah harta terakhir yang dimiliki oleh generasi muda. Dia pun mengajak para anak muda Indonesia untuk berpikir apa yang bisa dilakukan berikutnya untuk berkontibusi pada bangsa.
"Setiap anak tidak bisa memilih di rahim siapa mereka akan lahir dan di tanah mana mereka akan dilahirkan. Tapi mereka berhak untuk bisa berbahagia dan mendapatkan akses pendidikan yang baik," tambahnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik