Yasmin Noor Afifah, salah satu anggota pengembang Visiovein, mengatakan, hampir 90 persen pasien yang dirawat di rumah sakit akan mendapatkan prosedur akses vaskular. Sementara di Indonesia, prosedur untuk mengakses pembuluh vena masih dilakukan dengan metode konvensional yaitu dengan mencari jalur pembuluh darah dengan melihat dan meraba tangan pasien.
Namun begitu, beberapa orang memiliki vena yang sulit untuk ditemukan atau sangat rapuh. Pada sebagian pasien, pembuluh venanya berada di tempat yang tidak bisa dilihat dengan pengelihatan biasa atau berada di tempat yang tidak bisa ditembus gelombang cahaya. Fenomena ini menyulitkan tenaga medis dalam menemukan pembuluh darah vena pasien.
"Tidak jarang prosedur akses pembuluh vena semisal untuk memasukan cairan infus harus dilakukan berkali-kali karena belum menemukan jalur pembuluh vena sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman dan sakit pada pasien, bahkan trauma fisik maupun psikologis," kata Yasmin, belum lama saat memberi penjelasan di Fakultas Kedokteran (FK) UGM.
Kondisi inilah yang mendorong Yasmin bersama keempat rekannya dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas MIPA, Putri Istiqomah RH, Ardianto Nugroho, Faisal Fajri Rahani dan Intan Nur Fadlilah untuk membuat alat yang dapat membantu petugas medis dalam menjalankan prosedur akses vaskular dengan lebih mudah, efisien dan aman.