“Kami berusaha mencoba, warga di sini menjadi wiraswasta penghasil sampah dan pemasok sampah. Jadi, sasaran kita kampung ini menjadi tujuan wisata yang isinya menghasilkan produk–produk dari sampah yang diperjualbelikan dalam wisata lokal maupun internasional,” ujar Putri.
Putri mengungkapkan, warga akan mendapat pelatihan dari perwakilan Kagoshima University Jepang untuk mengolah sampah daun menjadi barang yang dapat dijual. Bahkan, Kagoshima juga akan membeli produk sampah yang dihasilkan oleh warga Kamal untuk dipasarkan di Jepang.
“Jadi, kampung wisata sampah artinya kampung ini akan disulap menjadi tujuan wisata yang produksi sampahnya menjadi sesuatu yang dapat dijual. Jadi, wisatawan yang berkunjung ke Jakarta yang ingin membeli produk dari sampah, dari bandara Soekarno Hatta dapat berkunjung ke Kamal,” kata Putri.
Suwasti Broto, selaku Kepala Sub Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Budi Luhur menambahkan, program ini membuka kesempatan bagi seluruh dosen dan mahasiswa di Universitas Budi Luhur maupun mitra kampus untuk berperan serta dalam projek pengabdian kepada masyarakat peduli Kamal.
Asisten Pembangunan Jakarta Barat, Yunus Burhan mengungkapkan, Kelurahan Kamal dan Tegal Alur sejak tahun 1995 silam telah masuk dalam program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Sebelumnya, sudah ada gerakan bedah rumah untuk beberapa rumah di lingkungan ini yang merupakan bantuan dari CSR.