Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sekolah Ini Tak Pernah Upacara Bendera

Sekolah Ini Tak Pernah Upacara Bendera
Para murid SD Cibunut, Majalengka, yang tidak bisa upacara bendera karena tidak adanya halaman sekolah (foto: Pikiran Rakyat)
A
A
A

MAJALENGKA - Seluruh murid Sekolah Dasar (SD) Cibunut, Desa Cibunut, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka selamanya tidak pernah melaksanakan upacara bendera yang pada umumnya dilaksanakan setiap sekolah di hari Senin. Alasannya tidak ada tempat untuk melaksanakan upacara karena sempitnya halaman sekolah.

Letak sekolah tersebut persis berada di pinggir jalan antara Cibunut-Desa Sanghiang, Kecamatan Argapura. Lebar halaman sekolah ada sekitar 2,5 meteran hingga ke pagar sekolah ditambah teras sekolah yang lebarnya kurang lebih dua meteran.

Tak Hapal Indonesia Raya

Karena diduga tidak pernah melaksanakan kegiatan upacara bendera itulah, hampir kebanyakan murid-muridnya tidak hapal lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib lainnya. Lagu Indonesia Raya hanya dinyanyikan di dalam sekolah, itupun menurut sejumlah murid jarang sekali dinyanyikan.

Erik dan Citra kelas V serta Apet dan Iwan kelas III SD Cibunut misalnya mereka mengaku tidak hapal lagu Indonesia Raya, alasannya jarang menyanyi lagu tersebut. Upacara benderapun mereka tidak mengetahuinya.

Dari 10 murid yang sedang berkerumun di halaman sekolah ketika ditanya hanya Dewi Delia satu-satunya orang yang hapal lagu Indonesia Raya, dia mengaku duduk di kelas V satu kelas dengan Erik. Merekapun mengaku tidak hapal lagu wajib seperti Bendera Merah Putih, Berkibarlah Benderaku atau lagu 17 Agustus dan beberapa lagu wajib lainnya.

Pramuka juga hanya dilakukan ketika akan mengikuti kemah bakti yang setiap tahun dilaksanakan pada 14 Agustus.

“Pramuka mah osok ari bade kemah (kegiatan pramuka suka ketika akan dilaksanakan kemah),” kata Dewi.

Mimi Maryami guru kelas V di sekolah tersebut membenarkan kalau di sekolahnya tidak dilaksanakan upacara karena tidak adanya lapangan upacara. Bila dilaksanakan di halaman sekolah sangat sempit sehingga tidak memungkinkan upacara dilaksanakan.

“Pernah upacara tapi ternyata sempit, dudukan tiang bendera juga masih ada. Upacara bisa dilaksanakan bila halaman mencukupi,” kata Mimi yang sejak tahun 1993 sudah bekerja di SD Cibunut.

Suatu saat menurutnya pernah upacara diselenggarakan di jalan raya, namun hal itu menganggu arus lalulintas. Hingga akhirnya upacara setiap hari Senin ditiadakan.

Sedangkan untuk kegiatan olah raga menurut Mimi, itu dilakukan di lapang milik desa, di sana murid bisa bermain sepak bola, bolavoli atau olah raga lainnya yang butuk tempat cukup luas, namun jaraknya lumayan jauh dari sekolah.

“Upacara bisa terselenggara kalau sekolah pindah. Sepertinya lahannya ada milik desa, tapi harus diratakan terlebih dulu, lokasinya di atas pemukiman warga, berdekatan dengan rumah dinas guru,” kata Mimi.

Menyinggung soal jumlah guru, di SD Cibunut mencapai tujuh orang ditambah lima orang tenaga sukwan. Sedangkan jumlah murid saat ini sebanyak 99 orang.

Guru-guru tersebut hampir seluruhnya berasal dari luar desa, hanya Mimi dan suaminya Nasrudin yang tinggal di Cibunut menempati rumah dinas guru, yang jaraknya sekitar 500 meteran dari sekolah. Sementara kondisi sekolah masih cukup bagus demikian juga dengan bangku sekolahnya.

(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement