Advertisement
Advertisement

Beda Output Mahasiswa Kura-Kura & Kupu-Kupu

Rachmad Faisal Harahap , Jurnalis-Selasa, 17 Februari 2015 |16:24 WIB
Beda <i>Output</i> Mahasiswa Kura-Kura & Kupu-Kupu
Output mahasiswa kupu-kupu dan kura-kura tentu berbeda, sesuai dengan orientasi kegiatan mereka di kampus. (Foto: shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Dari sebutannya saja beda, tentu orientasi kedua tipe mahasiswa ini juga berbeda. Mahasiswa kupu-kupu biasanya berorientasi akademis karena menjalani pola kuliah pulang- kuliah pulang (kupu-kupu). Sedangkan mahasiswa kura-kura biasanya sibuk dengan berbagai pertemuan, sesuai pola kuliah rapat - kuliah rapat (kura-kura).

Kedua tipe mahasiswa ini pun mendapat perhatian tersendiri dari kalangan perusahaan. Menurut Direktur Utama (Dirut) PT Balai Pustaka (Persero), Saiful Bahri, output kedua tipe mahasiswa tersebut tentu tidak akan sama.

"Mereka yang memanfaatkan semua aktivitas di kampus untuk mencari pengalaman, di dunia kerja nanti cenderung mempunyai kreativitas dan fleksibel di kantor," ujar Saiful, saat dihubungi Okezone, belum lama ini.

Jebolan Ekonomi Akuntansi di Universitas Diponegoro (Undip) itu melanjutkan, output tersebut umumnya tidak terlihat pada mahasiswa kupu-kupu. Karena tidak berkegiatan, maka mahasiswa tipe ini cenderung textbook dan tidak inovatif jika dibandingkan dengan mahasiswa yang aktif saat kuliah.

"Mahasiswa yang memiliki berbagai kegiatan di kampus akan mendapatkan jaringan yang luas. Tak hanya kenal dengan mahasiswa di kelasnya, tapi juga dengan mahasiswa lainnya sehingga menjadi lebih eksis dan produktif," ucap Saiful.

Pemegang gelar Master Manajemen Bisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) itu bercerita, saat bekerja di divisi Human Resource Development (HRD) di sebuah perusahaan, dia lebih senang merekrut lulusan perguruan tinggi yang aktif saat masih mahasiswa.

"Aktivitas mahasiswa adalah salah satu hal yang saya nilai," ungkap pria yang juga aktif saat kuliah itu.

Sementara itu, menurut Presiden Direktur PT Baba Rafi Enterprise Indonesia, Hendy Setiono, mahasiswa sebaiknya tidak hanya mengejar nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) dan prestasi akademik, tetapi juga mencari jaringan dengan mengikuti berbagai kegiatan di kampus.

"Saya melihat mahasiswa kupu-kupu mengejar IPK tinggi hingga mengorbankan hal lain seperti mencari jaringan. Padahal menyalurkan hobi juga penting," tutur Hendy.

Jebolan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya angkatan 2001 itu melanjutkan, justru selagi masih muda, sebaiknya kita memanfaatkan waktu untuk mencoba sesuatu. Misalnya, dengan membuka bisnis dan usaha.

"Selagi mencoba hal-hal yang positif kenapa tidak, lebih baik mencoba daripada tidak mencoba sama sekali. Pada umumnya anak muda ambisius, maka salurkan hobi dan jadikan sebagai pengalaman, seperti kuliah plus berwirausaha," jelasnya.

Inilah yang dijalani Hendy sebagai mahasiswa kura-kura. Dia merintis usahanya sejak masih mahasiswa.

"Sehingga, pengalaman saya sekarang karena sudah mulai berbisnis sejak kuliah. Justru teman saya baru berbisnis sejak lulus kuliah," kata pria yang pernah bergabung di kegiatan kewirausahaan kampus ITS itu.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement