Ia menambahkan, universitas menjadi wadah penting untuk melatih kegigihan mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan. "Mahasiswa mungkin menghadapi kegagalan dalam berbagai aktivitas. Oleh karena itu, melalui setiap kegiatan, kami melatih mereka untuk meningkatkan nilai-nilai ini hingga menjadi sebuah kebiasaan (habit)," jelasnya.
Terkait pesatnya perkembangan Artificial Intelligence, Dr. Nelly memandang AI bukan sekadar alat bantu biasa, melainkan pendorong produktivitas dan pencipta peluang baru. Mahasiswa dituntut untuk mampu memanfaatkan AI secara bijak guna melatih pemikiran kritis dan memecahkan masalah.
Kendati demikian, ia menekankan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan peran mendasar dari human skills.
"AI dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan peluang baru. Namun, kita tetap membutuhkan human skills karena itulah yang membuat perbedaan. Bagaimana kita mendesain sesuatu, mengambil keputusan yang bijak, serta melakukan intervensi yang bermanfaat, semua itu membutuhkan human skills (sentuhan manusia)," katanya.
(Rahman Asmardika)