PROFIL dan pendidikan Ratu Suthida menarik diulas. Dia merupakan pilot perempuan pertama Thailand yang terbangkan jet Gripen Solo.
Ya, Ratu Suthida Bajrasudhabimalalakshana dari Thailand menjadi sorotan setelah berhasil menerbangkan jet tempur Saab JAS 39C Gripen secara solo pada Kamis 8 Oktober 2026, Pencapaian tersebut menjadikannya perempuan pertama Thailand yang menerbangkan pesawat tempur Gripen seorang diri.
Penerbangan itu berlangsung di Wing 7, pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand di Provinsi Surat Thani. Momen tersebut disaksikan langsung oleh Raja Maha Vajiralongkorn atau Rama X serta sejumlah pejabat militer Thailand.
Keberhasilan Ratu Suthida bukanlah pencapaian yang datang secara instan. Sebelum menjalani penerbangan solo menggunakan jet tempur, ia telah mengikuti pelatihan penerbangan dan mengumpulkan pengalaman menerbangkan berbagai jenis pesawat.
Dilansir dari berbagai sumber, Ratu Suthida lahir di Distrik Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, pada 3 Juni 1978. Ia memiliki nama lengkap Suthida Bajrasudhabimalalakshana dan dikenal sebagai permaisuri Raja Maha Vajiralongkorn, raja Thailand yang bergelar Rama X.
Sebelum menjadi ratu, Suthida memiliki pengalaman bekerja di sektor penerbangan dan bidang keamanan kerajaan. Perjalanan kariernya kemudian berkembang hingga ia memperoleh pangkat militer dan menjalankan tugas resmi sebagai anggota keluarga kerajaan.
Pada 1 Mei 2019, Raja Maha Vajiralongkorn menikahi Suthida dalam upacara kerajaan di Bangkok. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 4 Mei 2019, ia secara resmi menyandang gelar Ratu Suthida dalam rangkaian upacara penobatan Raja Rama X.
Selain menjalankan tugas kerajaan, Ratu Suthida dikenal memiliki ketertarikan pada olahraga, termasuk hoki es, berlayar, bersepeda, dan lari. Ia juga memiliki kemampuan di bidang penerbangan yang terus dikembangkan melalui pelatihan khusus.
Ratu Suthida menempuh pendidikan tinggi di Assumption University, Bangkok, Thailand. Ia meraih gelar sarjana di bidang seni komunikasi atau communication arts.
Latar belakang pendidikan tersebut menjadi bagian awal perjalanan kariernya sebelum memasuki dunia penerbangan dan kemudian bertugas di lingkungan kerajaan Thailand. Setelah menyelesaikan pendidikan, Suthida bekerja sebagai pramugari di Japan Airlines (JAL) pada 2000 hingga 2003. Ia kemudian melanjutkan kariernya di Thai Airways International pada 2003 hingga 2008.
Pengalaman bekerja di industri penerbangan tersebut memberinya pengalaman dalam lingkungan operasional penerbangan komersial. Meski demikian, kemampuan menerbangkan pesawat yang dimilikinya berkembang melalui pelatihan penerbangan tersendiri.
Dilansir dari laman Departemen Hubungan Masyarakat Pemerintah Thailand, Ratu Suthida juga pernah mengikuti sejumlah kursus penerbangan di Thailand dan luar negeri serta memperoleh lisensi pilot komersial dari Otoritas Penerbangan Sipil Thailand.
Sebelum dikenal sebagai pilot perempuan yang menerbangkan Gripen secara solo, Suthida memiliki perjalanan karier yang cukup panjang. Setelah bekerja sebagai pramugari, ia bergabung dengan lingkungan keamanan kerajaan Thailand. Ia pernah bertugas sebagai staf operasi di Royal Guard Unit, Royal Security Command.
Pada 2017, Suthida menjabat sebagai Deputy Chief Aide-de-Camp to the King dan kemudian menjadi Deputy Commander of the Royal Security Command. Dalam perjalanan karier militernya, ia memperoleh pangkat jenderal khusus sebagaimana tercatat dalam profil resmi kerajaan Thailand.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kiprahnya tidak terbatas pada tugas seremonial kerajaan. Ia juga memiliki pengalaman dalam lingkungan militer dan keamanan sebelum semakin dikenal melalui kemampuan penerbangannya.
Setelah menikah dengan Raja Maha Vajiralongkorn pada 2019, Suthida menjalankan berbagai tugas kerajaan, baik di dalam negeri maupun dalam kegiatan diplomatik ke luar negeri.
Kemampuan Ratu Suthida dalam menerbangkan pesawat telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Ia dikabarkan telah mengumpulkan lebih dari 1.188 jam terbang dari berbagai jenis pesawat.
Beberapa pesawat yang pernah diterbangkannya meliputi Cessna T-41D, CT-4E Airtrainer, Pilatus PC-9, Mooney M20M, dan Piper PA-34 Seneca. Ia juga memiliki pengalaman menerbangkan pesawat Boeing 737-400 dan Boeing 737-800 dalam kapasitas penerbangan kerajaan. Dalam sejumlah perjalanan resmi, Ratu Suthida bertugas sebagai kopilot, sedangkan Raja Maha Vajiralongkorn bertindak sebagai pilot.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari rekam jejak penerbangannya sebelum mengikuti pelatihan khusus untuk menerbangkan jet tempur Gripen. Meski memiliki pengalaman panjang, menerbangkan jet tempur tetap membutuhkan keterampilan khusus karena karakteristik, sistem kendali, dan prosedur operasionalnya berbeda dari pesawat sipil.
Momen penting pun berlangsung pada Kamis 8 Oktober 2026 ketika Ratu Suthida menerbangkan jet tempur satu tempat duduk JAS 39C Gripen dari Wing 7 di Provinsi Surat Thani.
Sebelum lepas landas, ia mengikuti pengarahan mengenai rencana penerbangan dan melakukan pemeriksaan awal pesawat. Setelah seluruh persiapan selesai, pesawat bergerak menuju landasan pacu untuk melakukan penerbangan.
Penerbangan solo tersebut berlangsung selama sekitar 41 menit. Setelah mendarat, Ratu Suthida mendapat sambutan dari Raja Maha Vajiralongkorn yang hadir menyaksikan proses penerbangan tersebut.
Sang raja memberikan buket bunga sebagai ucapan selamat dan memasangkan Golden Gripen Order Patch pada lengan kiri seragam Ratu Suthida. Lencana itu berkaitan dengan Gripen Order, sebuah perkumpulan kehormatan di Swedia bagi mereka yang telah menerbangkan pesawat tersebut.
Keberhasilan tersebut menandai pencapaian penting dalam perjalanan penerbangannya sekaligus menjadikannya perempuan Thailand pertama yang menerbangkan Gripen secara solo, menurut laporan yang mengutip keterangan Biro Rumah Tangga Kerajaan Thailand.
Di luar pencapaiannya di bidang penerbangan, terdapat sejumlah hal menarik mengenai Ratu Suthida. Lulusan ilmu komunikasi. Ia meraih gelar sarjana seni komunikasi dari Assumption University di Bangkok.
Pernah menjadi pramugari. Ia bekerja di Japan Airlines dan Thai Airways International sebelum berkarier di lingkungan keamanan kerajaan.
Memiliki lisensi pilot komersial. Kemampuan penerbangannya dikembangkan melalui berbagai pelatihan di Thailand dan luar negeri.
Menguasai berbagai jenis pesawat. Pengalamannya mencakup pesawat latih, pesawat ringan, pesawat bermesin ganda, dan pesawat Boeing 737. Aktif dalam olahraga. Ia diketahui memiliki ketertarikan pada hoki es, berlayar, bersepeda, dan lari.
(Djanti Virantika)