Temuan awal uji coba menunjukkan bahwa efektivitas pemanfaatan AI bergantung pada ketepatan memilih pertanyaan alih-alih kuantitasnya. Analisis transkrip memperlihatkan bahwa kemampuan beradaptasi dan respons terhadap informasi baru jauh lebih krusial dibandingkan daftar pertanyaan kaku. Hal ini membuktikan bahwa AI generatif mampu mereplikasi dinamika bisnis nyata secara mendalam.
Ke depan, NUS Business School berencana memperluas metode ini ke berbagai disiplin ilmu bisnis lainnya yang menuntut negosiasi dan pengujian argumen. Transformasi studi kasus statis menjadi ekosistem interaktif ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Integrasi ini menjadi sangat mendesak seiring masifnya adopsi teknologi di berbagai lini operasional perusahaan.
Pertumbuhan adopsi teknologi yang pesat di kawasan regional turut memperkuat urgensi penguasaan literasi AI bagi para eksekutif. Terlebih di Indonesia, studi Kearney dan EDBI pada 2020 memproyeksikan bahwa AI berpotensi menyumbang hingga USD366 miliar bagi PDB pada tahun 2030, atau setara dengan 12 persen dari total proyeksi PDB nasional. Dengan potensi sebesar itu, kemampuan pemimpin bisnis dalam menilai dan menyaring informasi dari AI menjadi kompetensi kunci yang tak ternilai harganya.
(Djanti Virantika)