Farah menekankan bahwa pengembangan kompetensi tersebut tidak bisa dibebankan kepada sekolah atau kampus saja. Diperlukan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan dunia usaha agar kurikulum serta proses pembelajaran selaras dengan kebutuhan industri.
“Kolaborasi antara pendidikan dan industri menjadi kunci agar lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi yang sangat cepat,” katanya.
Menurut PERURI, pemanfaatan AI dan integrasi data yang tepat dapat menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mencetak talenta digital unggul. Dengan keterampilan yang sesuai, generasi muda Indonesia diharapkan mampu bersaing di tingkat global sekaligus mendukung percepatan transformasi digital nasional.
Pesan utama dari forum tersebut adalah bahwa di era AI, kemampuan teknis tetap penting, tetapi kemampuan berpikir kritis, memahami data, dan menyelesaikan masalah nyata akan menjadi pembeda utama bagi lulusan sekolah dan perguruan tinggi di masa depan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)