Sementara itu, Sim F menjelaskan bahwa AI saat ini telah menjadi bagian dari alur kerja kreatif, mulai dari pengembangan ide, eksplorasi visual, pembuatan storyboard, hingga proses pascaproduksi.
Menurutnya, AI bukanlah pengganti kreativitas manusia, melainkan alat yang dapat membantu kreator bekerja lebih efektif.
“AI adalah alat untuk membantu proses kreatif, bukan menggantikan kreativitas manusia. Ide, empati, dan kemampuan bercerita tetap menjadi kekuatan utama seorang kreator,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai konsep hybrid workflow, yaitu kolaborasi antara manusia dan AI dalam menghasilkan karya kreatif. Melalui pendekatan ini, AI dapat membantu mempercepat proses teknis, sementara keputusan kreatif, storytelling, dan nilai artistik tetap berada pada kreator.
Selain membahas teknologi, narasumber juga memberikan wawasan mengenai kompetensi yang perlu dimiliki calon kreator, seperti kemampuan storytelling, literasi visual, penyusunan prompt, kurasi hasil AI, pemahaman etika digital, serta kesadaran terhadap hak kekayaan intelektual.