Tekan Angka Sarjana Menganggur, Ini yang Perlu Dipikirkan Sebelum Kuliah

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Kamis 26 Maret 2026 17:19 WIB
Tekan Angka Sarjana Menganggur, Ini yang Perlu Dipikirkan Sebelum Kuliah (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Setiap tahun, ratusan ribu siswa di Indonesia bersaing memperebutkan kursi perguruan tinggi negeri (PTN). Pada seleksi UTBK-SNBT 2025, lebih dari 860 ribu peserta mengikuti seleksi, sementara daya tampung hanya sekitar 284 ribu kursi. Artinya, kurang dari sepertiga peserta yang berhasil diterima.

Persaingan yang ketat sering membuat banyak keluarga memandang keberhasilan masuk PTN sebagai tujuan utama pendidikan tinggi. Namun, dalam realitas dunia kerja yang terus berubah, para ahli pendidikan menilai bahwa tantangan terbesar bukan sekadar gagal masuk PTN, melainkan salah memilih arah pendidikan yang tidak mendukung masa depan karier.

Kondisi ini semakin relevan jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia masih mencapai jutaan orang, termasuk lulusan perguruan tinggi. Hal ini membuktikan bahwa memiliki gelar sarjana saja tidak selalu menjamin kesiapan menghadapi dunia profesional.

Karena itu, semakin banyak orang tua mulai melihat pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Dalam memilih kampus, pertimbangan tidak lagi hanya pada reputasi institusi, tetapi juga relevansi pembelajaran dengan kebutuhan industri serta peluang karier setelah lulus.

Berikut beberapa hal yang dapat dipertimbangkan sebelum menentukan kampus:

1. Relevansi Program Studi dengan Kebutuhan Industri

Perkembangan teknologi dan transformasi industri membuat kebutuhan dunia kerja berubah sangat cepat. Oleh karena itu, penting memilih program studi yang memiliki kurikulum selaras dengan perkembangan industri.

2. Kesempatan Mendapatkan Pengalaman Nyata

Selain pembelajaran di kelas, pengalaman langsung seperti internship, proyek industri, entrepreneurship, maupun kegiatan riset menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami dunia kerja sekaligus membangun portofolio profesional sebelum lulus.

3. Eksposur Global dan Jaringan Profesional

Di era globalisasi, mahasiswa perlu memiliki perspektif internasional serta jaringan yang luas. Kampus yang memiliki kerja sama global, program pertukaran mahasiswa, maupun koneksi industri dapat memberikan nilai tambah bagi masa depan karier.

Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., mengatakan bahwa pendidikan tinggi yang tepat harus mampu memberikan nilai nyata bagi masa depan mahasiswa.

“Pendidikan tinggi pada dasarnya adalah investasi masa depan. Lebih dari sekadar nama institusi, yang terpenting adalah bagaimana kampus mampu mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja, sekaligus membekali mereka agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.”

Ia menambahkan bahwa kampus perlu membangun ekosistem pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga memberikan pengalaman langsung yang relevan dengan industri.

“Mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman profesional sejak masih kuliah, memiliki jaringan yang luas, serta memahami dinamika global. Dengan begitu, investasi pendidikan yang dilakukan orang tua dapat benar-benar memberikan hasil konkret dalam perjalanan karier anak,” tambahnya.

Pendekatan ini dikembangkan BINUS University melalui ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan industri dan pengalaman global. Melalui program 2,5 Tahun Kuliah, Siap Berkarier, mahasiswa dapat menyelesaikan masa studi lebih cepat dan memanfaatkan waktu untuk mendapatkan pengalaman profesional melalui berbagai program enrichment seperti internship, entrepreneurship, research, community development, hingga pengalaman internasional.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya