Sementara itu, Staf Khusus Presiden RI Bidang Inovasi, Pendidikan dan Daerah Terluar Billy Mambrasar memaparkan pengalamannya dalam mendukung Pemerintah Pusat dan daerah.
“Sebelum bergabung sebagai Staf Khusus Presiden, saya adalah aktivis pendidikan yang bergerak di pendidikan non-formal untuk anak-anak dan remaja melalui Yayasan Kitong Bisa di Papua. Yayasan Kitong Bisa berfokus kepada life-skill dan literasi yang hingga saat ini sudah menjangkau 5.000 anak tiap tahunnya,” jelas Billy.
Terkait perannya sebagai Staf Khusus Presiden RI bidang Pendidikan, Billy juga menambahkan bahwa banyak pendekatan yang dilakukan oleh Inovasi masuk ke dalam rekomendasi kebijakan pendidikan yang dia tuliskan untuk Presiden Jokowi.
Sekadar informasi, Kemitraan untuk Pembelajaran bertujuan untuk mendorong keberlanjutan kemitraan antara pemerintah daerah dengan berbagai lembaga non-pemerintah seperti universitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan organisasi masyarakat guna meningkatkan kualitas pembelajaran bagi siswa di Indonesia.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi kerja sama antara pemerintah daerah dengan lembaga non-pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa dalam bidang literasi, numerasi, dan inklusi melalui mekanisme hibah.
Mulai dari fase I (2016-2020) hingga fase II (2020-2023), sebanyak 40 organisasi non-pemerintah telah terlibat dalam pelaksanaan program hibah ini.
Program-program tersebut telah dijalankan di empat provinsi mitra Inovasi, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Utara. Hasilnya, kolaborasi ini telah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan pendidikan di masing-masing daerah.
Lebih dari sekadar menyebarkan praktik dan dampak positif dari program yang dijalankan oleh mitra Inovasi, acara Kemitraan untuk Pembelajaran juga berfungsi sebagai ajang untuk memperluas jaringan serta membangun hubungan antara para pemangku kepentingan yang memiliki perhatian dalam dunia pendidikan.
(Dani Jumadil Akhir)