Setelah KH. Ahmad Dahlan wafat, Haji Bilal berteman dengan KH Mas Mansur. Sejarah mencatat, Haji Bilal juga bergaul dengan pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara.
Tak ingin anak cucunya hidup tanpa pendidikan formal, Haji Bilal kemudian mendirikan yayasan. Lembaga yang ditujukan untuk menunjang pendidikan keturunanya kelak.
"Menilik statuta Yayasan Banda Pamidjen, tampak sekali keterdidikan Haji Bilal. Ia ingin anak dan keturunannya mendapat pendidikan yang memadai. Agar harapannya tak sekadar mimpi di siang bolong," imbuh Husni.
Keterikatan Haji Bilal dengan Muhammadiyah semakin erat. Itu terlihat saat ia tak segan mengeluarkan uang untuk mendukung dakwah Muhammadiyah. Salah satunya untuk merenovasi langgar alias musala menjadi Masjid Margajuwana.
“Bilal mendukung penuh perluasan Masjid Margajuwana. Sebagian besar modal pembangunan berasal dari Haji Bilal,” tulis Husnil.
Selain itu, Haji Bilal juga mengikatkan diri dengan Muhammadiyah dengan dua cara. Pertama menikahkan anak keempatnya dengan cucu KH Ahmad Dahlan. Kedua, mewakafkan hartanya.
“Pertama, akan melahirkan generasi yang menyatukan darah Haji Bilal dengan KH Ahmad Dahlan, kedua akan menjaga agar ajaran KH Ahmad Dahlan terus berjalan,” ujar Husnil.
( Muhammad Fadli Rizal)