JAKARTA - Ungkapan ‘guru pahlawan tanpa tanda jasa’ memang pantas disematkan kepada para pendidik.
Sebab, guru memberikan ilmunya kepada para siswa dan siswinya tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Indonesia adalah negara yang memiliki banyak guru hebat dan terkenal, bahkan sejak era sebelum kemerdekaan hingga modern.
Berikut adalah 4 guru paling terkenal di Indonesia.
1. Ki Hajar Dewantara
Sosok guru terkenal yang pertama muncul adalah Ki Hajar Dewantara. Ia merupakan pendidik dan pahlawan nasional kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1889 dan memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.
Hari lahirnya itu juga diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ki Hajar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta pada tahun 1922 dengan maksud memberikan pendidikan bagi masyarakat pribumi.
Diketahui, kala itu hanya para priyayi dan orang Belanda yang berhak mendapatkan pendidikan di sekolah formal. Ia juga mengajukan konsep pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan.
Konsep tersebut biasa disebut sebagai Tri Pusat Pendidikan, yakni pendidikan keluarga, pendidikan dalam alam perguruan, dan pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat.
Dalam buku ‘Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya’, yang diproduksi oleh Museum Kebangkitan Nasional tahun 2017, Ki Hajar Dewantara juga terkenal sebagai jurnalis yang bekerja untuk beberapa surat kabar, seperti Midden Java, De Expres, Soeditomo, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, Kaoem Moeda, dan Poesara.
Sederet surat kabar tersebut melempar berbagai kritik sosial dan politik dari kaum bumiputra kepada para penjajah.
2. H.O.S. Tjokroaminoto
Selanjutnya, ada sosok Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang lebih dikenal dengan H.O.S. Tjokroaminoto.
Ia berjuluk ‘Guru Bangsa’ atau ‘Guru Para Pemimpin’, lantaran banyak tokoh besar yang menimba ilmu kepadanya. Melansir Jurnal Dakhwah dan Komunikasi (2020) bertajuk ‘Haji Oemar Said Tjokroaminoto: Biografi, Dakwah dan Kesejahteraan Sosial’, Tjokroaminoto merupakan guru politik dan juga tokoh pergerakan nasional yang memberikan kontribusi serta pengaruh besar dalam dinamika politik dalam negeri.
Ia lahir di Ponorogo, 16 Agustus 1883 dan wafat di Yogyakarta, 17 Desember 1934. Salah satu pemimpin Sarekat Islam ini merupakan guru dari Soekarno, Alimin, Muso, Kartosoewiryo, dan Abikoesno.
Ia juga merupakan ayah dari Siti Oetari, istri pertama Soekarno.
3. Dewi Sartika
Nama Dewi Sartika patut masuk sebagai guru berpengaruh dan terkenal di Indonesia.
Melalui pemikiran-pemikirannya, ia menyerukan agar perempuan mendapat akses pendidikan yang setara dengan kaum pria.
Dewi Sartika merupakan putri Sunda kelahiran Cicalengka, 4 Desember 1884. Lahir dari keluarga ningrat, tak membuat Dewi hidup nyaman dan menikmati segala fasilitas.
Ia justru berjuang demi adanya kesetaraan, antara kaum wanita dan pria.
Melansir informasi yang ada dalam Jurnal Ilmiah Peradaban Islam (2020) dengan judul ‘Pemikiran Dewi Sartika Pada Tahun 1904-1947 Dalam Perspektif Islam’, Dewi mendapat pendidikan Eropa karena status sosialnya.
Ia bahkan menerima pelajaran bahasa Belanda, Inggris, dan bidang ilmu lainnya di HIS (Hollandsch Inlandshe School).
Namun, Dewi dikeluarkan dari sekolah lantaran sang ayah, R. Rangga Somanagara yang kala itu menjadi Patih Bandung, dituduh melakukan percobaan pembunuhan kepada Bupati Bandung yang baru, R.A.A. Martanagara.
Setelahnya, ayah Dewi diasingkan ke Ternate, ditemani istrinya. Dewi Sartika dititipkan di rumah pamannya, Raden Demang Suria Kartahadiningrat, yang juga Patih Aria Cicalengka.
Ketika remaja, Dewi mulai belajar pendidikan sederhana, seperti menjahit, menyulam, dan sopan santun.
Dewi Sartika mendirikan sekolah khusus perempuan di pendopo Kabupaten Bandung pada 16 Januari 1904 bernama Sakola Kautamaan Istri.
4. Een Sukaesih
Een Sukaesih adalah seorang guru difabel yang terkenal dan sangat total mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Een lahir di Sumedang, 10 Agustus 1963.
Meskipun memiliki keterbatasan dan hanya bisa terbaring di atas kasur, namun Een tetap semangat memberikan pelajaran kepada para siswanya.
Wanita inspiratif lulusan IKIP Bandung ini awalnya menderita rheumatoid arthritis, sebuah penyakit yang membuat sendi-sendi tubuhnya bengkak dan kaku.
Karenanya, Een tak mampu beranjak dari tempat tidurnya dan hanya mampu berbaring selama 30 tahun.
Een mendirikan Rumah Pintar Al-Barokah pada tahun 2013, sebagai wujud kecintaannya terhadap dunia pendidikan.
Melalui sekolah tersebut, ia memberikan kesempatan bagi siapa saja yang ingin memperoleh pendidikan.
Apalagi, sekolah ini tidak memungut biaya sepeserpun dari para siswanya. Een meninggal dunia pada Desember 2014 di RSUD Sumedang.
Dua minggu sebelum berpulang, kondisi kesehatan Een terus menurun hingga harus mendapat perawatan di ruang ICU. Pihak dokter mengungkapkan bahwa Een mengalami kegagalan fungsi multi organ di tubuhnya.
(Natalia Bulan)