"Sudah disampaikan, tadi juga disampaikan lagi, dari minggu-minggu kemarin, sehingga mereka nyuri-nyuri waktu. Namanya juga anak-anak susah ditahannya, sampai-sampai mereka menyelenggarakannya di rumah seseorang (murid) tapi ada yang kecolongan juga murid kelas, jadi lebih dulu dilaksanakan sampai ada pre-weddingnya," ujar Mamat.
Selain ada pre-wedding, lanjut Mamat, dalam praktik nikah juga ada sebaran undangannya, lalu ada sampai ke memberikan amplop dan juga ada dekorasi, make up, hingga prasmanan.
Padahal dari pihak sekolah tidak ada instruksi seperti itu, namun para siswa mengeksekusinya memang besar dan kadang-kadang berlebihan, bersaing antara kelas A dengan kelas B dan juga ditambah jadi ajang konten di media sosial.
Sementara itu salah satu siswa SMAN 3 Kota Sukabumi, Felia Azani Ramadani (17) yang merupakan kelas XII MIPA 3 mengatakan bahwa tidak ada paksaan dari pihak sekolah untuk membuat acara praktik nikah dibuat dengan semewah-mewahnya, semua dilakukan karena kreativitas dari para siswa.