Pada tahun yang sama, lahir gerakan kepanduan pertama kali di Indonesia yang didudukki oleh Mangkunegara VII di Surakarta bernama Javaansche Padvinders Organisatie.
Setelah itu, lahir kembali berbagai gerakan kepanduan lainnya yang diatur oleh organisasi-organisasi pergerakan nasional, yakni:
- Nationale Padvinderij dari Boedi Oetomo
- Hizbul Wathan dari Muhammadiyah
- Nationale Islamietische Padvinderij dari Jong Islamieten Bond
- Sarekat Islam Afdeling Padvinderij dari Sarekat Islam
Saat tahun 1923, mulai terdapat pemersatuan gerakan-gerakan kepanduan tersebut.
Awal dari gerakan kepanduan dalam cakupan nasional ditandai dengan adanya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Batavia.
Lalu, pada tahun 1936, kedua gerakan itu bergabung menjadi satu, bernama Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO).
Seiring berjalannya waktu, gerakan kepanduan di cakupan nasional itu semakin terkenal dan membuat pemerintah Belanda cemas, kemudian melarang seluruh gerakan kepanduan bumiputera memakai istilah padvinder.
Maka dari itu, K. H. Agus Salim memperkenalkan sebutan "pandu" atau "kepanduan" untuk organisasi kepramukaan di Tanah Air.
Pada perjalanannya, organisasi kepanduan yang awalnya berjumlah ratusan dipotong menjadi beberapa federasi.
Karena diketahui adanya kelemahan dari beberapa federasi tersebut, lalu dibentuklah Persatuan Kepanduan Indonesia atau PERKINDO.
Walau demikian, tetap terdapat gangguan karena minimnya kekompakan antara anggota di dalamnya.