Namun setelah 1 tahun 5 bulan menjadi sopir becak, Tarpan kembali menganggur karena becak yang menjadi batangannya itu dijual oleh pemiliknya.
Pemilik menjual semua becaknya karena alasan hendak membangun rumah.
"Waktu itu sedih juga karena jadi pengangguran lagi. Cari kerja susah saya sempat putus asa dan ingin pulang ke kampung," katanya.
Namun setelah lepas jadi tukang becak justru jalan hidup Tarpan mulai bersinar. Saat sudah menganggur, tiba-tiba dia di tawari kerja oleh kawannya sebagai tata usaha di Universitas Singaperbangsa (Unsika) Karawang.
Meski baru menjadi karyawan magang namun dia gembira bukan kepalang.
"Waktu pertama kerja sistem gajinya tidak menentu. Tapi saya tetap semangat bekerja," katanya.
Setelah kerja sebagai tata usaha di Universitas Singaperbangsa, Tarpan minta izin pimpinan untuk kuliah.
Ternyata pimpinan setuju dan berharap Tarpan serius menekuni dunia pendidikan.
Setelah kuliah dan berhasil menjadi sarjana, karier Tarpan semakin moncer. Mulanya dia diminta membantu dosen yang berhalangan.
Kemudian kariernya naik saat pindah ke kampus UBP diangkat menjadi dosen dan kemudian dipercaya menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Pendikan di UBP Karawang hingga sekarang.
(Natalia Bulan)