BOGOR - Dalam sidang promosi terbuka Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto pada progran Doktor Universitas Pertahanan (Unhan) RI, bukan hanya dihadiri Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, sejumlah menteri di Kabinet Indonesia Maju hadir.
Sidang promosi Hasto juga diuji oleh Megawati Soekarnoputri sebagai penguji internal, dan juga penguji eksternal Kepala Badan Intelijen Negara (KaBIN) Budi Gunawan dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.
"Penguji internal Prof. Dr. Hc. Megawati Soekarnoputri, pada kesempatan yang baik ini, perkenankan kami civitas akademika Unhan sekali lagi mengucapkan selamat atas gelar Chairman Professor dari Seoul Institute of PR pada Mei yang lalu. Atas kehadiran Prof. Megawati kami ucalkan terima kasih," kata Rektor Unhan Laksamana Madya TNI Prof. Dr. Amarulla Octavian dalam sambutannya di Aula Merah Putih, Unhan RI di Kawasan IPSC-Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (6/6/2022).
"Kami juga mengucapkan terima kasih atas perkenaan Kepala BIN Jenderal Pol. (Purn) Prof. Dr. Budi Gunawan SH, M.Si, Phd. selaku Guru Besar Sekolah Intelijen Negara sebagai penguji eksternal, terima kasih atas perkenaan Mendagri Jenderal Pol (Purn) Prof. Dr. Muhammad Tito Karnavian, MA. PHd. Guru Besar Ilmu Kepolisian menjadi penguji eksternal," sambungnya.
Adapun menteri-menteri dan kepala badan yang hadir di antaranya, Menhan Prabowo Subianto, Mendikbud Ristek Nadim Makarim, Ketua BPK RI Ismayatun, Menseskab Pramono Anung, Mendagri Tito Karnavian, Menteri KKP Wahyu Sakti Trenggono, Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa, Menkumham Yasonna H. Laoly Mensos Tri Rismaharini, Menteri ESDM, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Koperasi dan UKM dan Anggota Wantimpres Sidharto Danusubroto.
Sementara itu, Hasto memaparkan disertasinya yang berjudul "Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara" di hadapan para penguji. Menurutnya, konstelasi geopolitik saat ini masih diwarnai pertarungan hegemoni memperebutkan sumber daya alam, penguasaan pasar, dan unjuk kekuatan militer. Dalam pertarungan geopolitik tersebut, Asia Pasifik menjadi pivot geopolitik sebagaimana telah digambarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1930.
Hasto mengatakan, urgensi penelitian ini diperkuat dengan hasil penelitian pendahuluannya, yang menunjukkan besarnya gap kognisi Soekarno sebagai pemimpin visioner, melintasi jaman, dengan kognisi tinggi, rata-rata di atas 52%. Hal ini berbanding terbalik dengan kognisi yang relatif rendah terhadap peran Presiden Soekarno pada KAA, GNB, dan Pembebasan Irian Barat, dimana yang tidak tahu mencapai di atas 60%.
"Perumusan masalah penelitian ini dengan melihat pertarungan geopolitik di Timur Tengah, kawasan Euro-Asia, dan di Samudera Pasifik seperti di Laut Cina Selatan. Kesemuanya masih diwarnai narasi Eropa dan Amerika Sentris," terang Hasto.
Dia mengatakan tengah pertarungan hegemoni tersebut bagaimana pemikiran geopolitik Soekarno dapat menjadi alternatif solusi terhadap berbagai persoalan geopolitik dunia. Dan di sinilah penelitian ini menjadi penting.
Pada akhirnya, Hasto mengatakan dirinya merumuskan masalah dalam empat pertanyaan penelitian.
"Pertama, apa dan bagaimana pemikiran geopolik Soekarno dan pengaruhnya bagi kepentingan nasional Indonesia? Kedua, bagaimana pengaruhnya terhadap dunia? Ketiga, bagaimana pengaruh dan dampaknya pada masa pemerintahan Presiden Soekarno? dan keempat, bagaimana relevansi dan implementasinya terhadap kebijakan pertahanan negara paska Soekarno?," urai Hasto.
Hasto menambahkan, dari disertasinya bisa didapat manfaat akademis untuk mengonstruksikan secara teoritis pemikiran geopolitik Soekarno. Sementara manfaat praktis, secara makro misalnya, sebagai pengarus-utamaan kebijakan pembangunan nasional, kepentingan nasional, pertahanan negara, dan kebijakan luar negeri.
(Nanda Aria)