“Kualitas luhur yang dimiliki yakni setidaknya ia mampu menjaga keharmonisan hubungan antara keagamaan dan kebangsaan, yang beberapa tahun terakhir disalahgunakan dalam politik identitas. HMI mengecam segala bentuk upaya yang membenturkan kedua hal tersebut,” tegasnya.
Di samping itu, Ichya memandang bahwa kualitas lain kepemimpinan nasional yang juga perlu dimiliki adalah wawasan nasional, tetapi dengan pengalaman internasional. Seperti halnya kemampuan menjaga hubungan keagamaan dan kebangsaan, kualitas pemimpin nasional juga harus mampu menyeimbangkan wawasan nasional dan internasional. Ia dihormati bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mata dunia.
“Namun demikian, jangan lupa bahwa kepemimpinan juga adalah persoalan regenerasi. Pemimpin nasional ideal juga sebaiknya orang yang mampu menginsipirasi generasi di bawahnya, sebagai calon-calon pemimpin di masa datang. Karena itu, ia haruslah sosok yang juga akrab dengan kelompok generasi muda, milenial, gen-z atau semacamnya, sebagai calon penerus visi kepemimpinannya," pungkas Ichya.
(Susi Susanti)