Gagas Robot Penghancur Sampah Lautan, Tim ITS Sukses Sabet Emas di I2ASPO

Neneng Zubaidah, Jurnalis
Senin 10 Januari 2022 12:01 WIB
Tim ITS penggagas metode robot penghancur sampah plastik IMAN.
Share :

JAKARTA – Tim mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berupaya mengatasi masalah sampah plastik di perairan yang sampai saat ini masih menjadi permasalahan serius di Indonesia dengan inovasi robot otomatis.

Robot Integrated Machinery Plastic Waste Cleanser (IMAN) yang menggabungkan menggabungkan teknologi superfluid dan internet of things (IoT) itu berhasil membawa tim ITS meraih medali emas di kompetisi Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO).

BACA JUGA: Atasi Masalah Emisi Gas Indonesia, Mahasiswa ITS Ciptakan Konsep Turbin Pintar Hydrotek

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sepanjang 2020 terdapat sekitar setengah juta ton sampah plastik berada di laut Indonesia, sehingga menjadikan Indonesia sebagai kontributor sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

“IMAN diharapkan mampu menjawab permasalahan tersebut,” tutur Ketua Tim Fadlurrahman Sutrisno melansir dari laman resmi ITS di its.ac.id, Sabtu (8/1/2022).

Farhan menambahkan, inovasi mereka merupakan robot pencari dan penghancur sampah plastik di lautan yang dirancang terintegrasi oleh IoT. “IMAN dapat memudahkan dekomposisi sampah plastik tanpa harus dikumpulkan dan dipindahkan ke suatu tempat,” terang mahasiswa Departemen Teknik Mesin ini.

BACA JUGA: ITS Dirikan Galeri Riset dan Inovasi Teknologi, Ruang Pembelajaran Bagi Masyarakat

Lebih lanjut, Farhan menjelaskan, robot dilengkapi dengan camera processing yang berguna untuk mencari dan mengidentifikasi jenis-jenis sampah saat beroperasi di lautan.

Ketika benda asing yang terdeteksi sebagai sampah plastik, mulut robot akan terbuka secara otomatis dan sampah akan dibawa masuk oleh conveyor robot untuk diproses lebih lanjut.

“Pada conveyor terdapat penyaring, sehingga air tidak turut serta masuk ke dalam robot,” jelas Farhan.

Sampah kemudian akan masuk ke dalam tabung khusus dan didekomposisi memanfaatkan fluida superkritis hidrogen oksida (H2O). Proses dekomposisi dilakukan di suhu 373 derajat celcius dan tekanan 22 Mega Pascal, sehingga sampah plastik akan langsung terdekomposisi saat dialiri fluida superkritis H2O.

“Beberapa sampah plastik akan meninggalkan residu, namun dapat digunakan kembali sebagai plastik daur ulang,” ungkap mahasiswa angkatan 2020 ini.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya