SLEMAN - Peneliti Program Studi (prodi) Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan pesawat tanpa awak untuk deteksi dini kebakaran hutan yang diberinama Elang Caraka.
Selain bisa dioperasikan baik siang maupun malam dari jarak jauh untuk mendeteksi dini kebakaran hutan, biaya operasionalnya juga jauh lebih murah.
Peneliti Prodi Teknik Mesin UGM, Gesang Nugroho menjelaskan pengembangan pesawat tanpa awak ini, karena beberapa tahun belakangan kawasan hutan Indonesia mengalami penyusutan, sebagian besar disebabkan peristiwa kebakaran hutan dan pembalakan liar.
Kondisi geografis, medan lahan gambut yang luas, kurangnya akses jalan, terbatasnya sumber daya manusia dan minimnya fasilitas menimbulkan masalah yang cukup besar di dalam melakukan pemantauan dan pemadaman dini kebakaran.
Selama ini pendeteksi titik api di hutan dilakukan dengan patroli udara menggunakan helikopter. Namun penggunaan helikopter memakan biaya yang tinggi dan hanya bisa dilakukan siang hari.
Ketika terjadi kebakaran di malam hari, api sudah terlanjur membesar pada keesokan hari sehingga sulit untuk dipadamkan. Selain itu, ktika hutan terbakar, jarang ada yang mengetahui titik terbakar hutan tersebut. Karena itu, diperlukan pendeteksi dini titik api di hutan untuk menghindari meluasnya kebakaran hutan. Di antaranya dengan pengembangan pesawat tanpa awak ini.